Kasus DBD di Kepulauan Meranti Tembus 62, Dinkes Perkuat PSN dan Kewaspadaan Masyarakat. (foto; istimewa)

DINAS Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti mencatat sebanyak 62 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) hingga 13 Juli 2026. Selain itu, terdapat 61 kasus Demam Dengue (DD), sehingga total kasus infeksi dengue di daerah tersebut mencapai 123 kasus yang tersebar di seluruh wilayah kerja puskesmas.

Berdasarkan data Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, wilayah dengan jumlah kasus DBD tertinggi berada di UPT Puskesmas Alah Air sebanyak 29 kasus, disusul UPT Puskesmas Selatpanjang dengan 14 kasus, serta UPT Puskesmas Alai sebanyak 6 kasus.

Sementara itu, UPT Puskesmas Pulau Merbau mencatat 3 kasus, sedangkan UPT Puskesmas Anak Setatah, Kedabu Rapat, Tanjung Samak, dan Sungai Tohor masing-masing melaporkan 2 kasus. Adapun UPT Puskesmas Bandul dan Teluk Belitung masing-masing mencatat 1 kasus DBD.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, mengatakan tren kasus dengue masih menjadi perhatian serius meskipun angka kematian akibat DBD hingga pertengahan Juli tercatat nihil.

“Alhamdulillah, hingga pertengahan Juli ini tidak ada kasus kematian (Case Fatality Rate/CFR 0 persen) akibat DBD di Kabupaten Kepulauan Meranti. Namun demikian, masyarakat tetap harus meningkatkan kewaspadaan karena penularan masih terjadi di sejumlah wilayah,” ujar Widya.

Ia menjelaskan, tingginya kasus di beberapa wilayah menunjukkan bahwa nyamuk Aedes aegypti masih berkembang biak di lingkungan permukiman. Oleh karena itu, upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus menjadi gerakan bersama yang dilakukan secara rutin oleh masyarakat.

Menurut Widya, sepanjang tahun ini Dinas Kesehatan bersama puskesmas terus melakukan berbagai langkah pengendalian, mulai dari penyelidikan epidemiologi, penyuluhan kesehatan, hingga fogging fokus apabila memenuhi indikasi epidemiologis.

“Fogging bukan solusi utama. Yang paling efektif adalah Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, memanfaatkan atau mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta berbagai langkah pencegahan lainnya,” jelasnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan, hingga pertengahan Juli telah dilaksanakan dua kali fogging di lingkungan masyarakat yang memenuhi kriteria, sementara tidak ada pelaksanaan fogging di sekolah. Saat ini juga masih terdapat satu pasien yang menjalani perawatan di RSUD Kepulauan Meranti akibat infeksi dengue.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala demam yang berlangsung selama dua hingga tiga hari, terlebih jika disertai nyeri otot, mual, atau muncul bintik-bintik merah pada kulit.

“Apabila mengalami demam tinggi selama dua sampai tiga hari, segera datang ke fasilitas pelayanan kesehatan terdekat untuk mendapatkan pemeriksaan. Penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kondisi pasien berkembang menjadi lebih berat,” katanya.

Ade juga mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan kebersihan lingkungan sebagai budaya sehari-hari, terutama di musim hujan maupun saat banyak genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah atau petugas kesehatan. Dibutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan melaksanakan PSN secara rutin. Dengan kerja sama semua pihak, kita berharap angka kasus dengue di Kepulauan Meranti dapat terus ditekan,” tutupnya.

Berdasarkan rekapitulasi Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti hingga 13 Juli 2026, wilayah kerja UPT Puskesmas Alah Air memiliki Incidence Rate (IR) tertinggi yakni 82,48 per 100.000 penduduk, diikuti UPT Puskesmas Selatpanjang sebesar 44,21 per 100.000 penduduk. Data ini menjadi dasar bagi Dinas Kesehatan untuk terus memperkuat upaya pencegahan, surveilans, serta edukasi masyarakat agar penyebaran dengue dapat dikendalikan secara optimal. (ADV)