
Di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, hamparan pohon sagu bukan sekadar pemandangan khas kawasan pesisir. Di balik batang-batang sagu yang tumbuh subur di lahan gambut, tersimpan denyut kehidupan masyarakat yang telah bergantung pada tanaman ini selama puluhan tahun. Sagu bukan hanya pangan, melainkan identitas budaya, sumber penghidupan, sekaligus harapan bagi tumbuhnya ekonomi daerah.
Sebagai salah satu sentra penghasil sagu terbesar di Indonesia, Kepulauan Meranti memiliki kekayaan alam yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Potensi tersebut kini tidak lagi berhenti sebagai hasil perkebunan semata. Di tangan para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), sagu menjelma menjadi beragam produk bernilai ekonomi tinggi yang mampu menembus pasar nasional.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Selatpanjang, berburu oleh-oleh berbahan dasar sagu sudah menjadi agenda yang tak boleh dilewatkan. Mulai dari mie sagu, brownies sagu, stik sagu, kue bangkit, hingga aneka camilan modern tersaji di berbagai gerai UMKM. Semua menghadirkan cita rasa khas yang sulit ditemukan di daerah lain.
Di balik beragam produk tersebut, tersimpan kisah para pelaku usaha yang memilih bertahan dan berkembang dengan mengolah potensi lokal menjadi peluang ekonomi.
Salah satunya adalah Gerai Sagu Kite, pusat oleh-oleh khas Meranti yang terletak di jalan siak, Selatpanjang didirikan oleh Praptini. Usaha ini lahir pada masa yang tidak mudah, ketika pandemi Covid-19 melanda dan banyak pelaku usaha harus berjuang mempertahankan usahanya.
Alih-alih menyerah, Praptini justru melihat peluang. Ia percaya bahwa sagu memiliki potensi besar apabila dikemas lebih menarik dan dipasarkan secara lebih luas.
Keputusan itu terbukti tepat.
Kini Gerai Sagu Kite mempekerjakan sekitar 12 karyawan yang menangani proses produksi hingga pemasaran. Tidak hanya melayani pembeli yang datang langsung ke toko, produk-produknya juga dipasarkan melalui berbagai platform digital dan media sosial sehingga menjangkau konsumen di berbagai daerah.
“Hampir seluruh Indonesia sudah mengenal produk kami. Penjualan online sangat membantu memperluas pasar,” ujar Praptini.
Tidak berhenti pada pengembangan usahanya sendiri, Gerai Sagu Kite juga menjadi rumah bersama bagi sekitar 25 UMKM di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Melalui kolaborasi tersebut, sedikitnya 15 produk olahan sagu berhasil dipasarkan, mulai dari mie sagu instan, stik sagu, brownies sagu, donat crispy sagu, sagu rendang, sagu lemak, sesagon, nastar sagu, kue bangkit sagu, sohuy, mie ayam sagu, cendol sagu, bakso sagu, kolong sagu, hingga sagon kelapa.
Di antara seluruh produk tersebut, Mie Sagu Boejang Siap Saji menjadi produk favorit masyarakat sekaligus ikon penjualan mereka.
Dalam kondisi normal, Gerai Sagu Kite mampu membukukan omzet sekitar Rp50 juta hingga Rp60 juta setiap bulan. Pada momen tertentu seperti Idulfitri dan Tahun Baru Imlek, omzet bahkan meningkat hingga sekitar Rp80 juta per bulan.
Untuk menjaga kesinambungan produksi, sekitar 100 kilogram tepung sagu kering diolah setiap pekan menjadi berbagai produk siap konsumsi.
Bagi Praptini, capaian tersebut bukan sekadar angka penjualan, melainkan bukti bahwa produk lokal mampu bersaing apabila dikelola secara serius, menjaga kualitas, dan mampu mengikuti perkembangan pasar.
Komitmen mengembangkan UMKM berbasis sagu juga mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Tenaga Kerja Kabupaten Kepulauan Meranti, Eko Priyono, mengatakan pemerintah terus memperkuat daya saing pelaku UMKM melalui berbagai program pendampingan, pelatihan, fasilitasi legalitas usaha, penguatan kemasan produk, hingga perluasan akses pemasaran.
Menurutnya, sagu merupakan kekuatan ekonomi yang harus terus dikembangkan karena memiliki nilai strategis sebagai produk unggulan daerah.
“Potensi sagu yang dimiliki Kepulauan Meranti merupakan keunggulan daerah yang harus terus dikembangkan. Pemerintah berkomitmen mendampingi pelaku UMKM agar mampu naik kelas, memiliki daya saing, membuka lapangan pekerjaan baru, dan memperluas pasar. Harapan kami, produk-produk berbahan sagu dari Meranti semakin dikenal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di pasar internasional,” ujar Eko.
Dukungan serupa juga datang dari DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti.
Anggota Komisi II DPRD Kepulauan Meranti, Lianita Muharni, menilai pengembangan UMKM berbasis sagu tidak hanya berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah.
Menurutnya, DPRD akan terus mendorong kebijakan yang berpihak kepada pelaku UMKM, baik melalui penguatan anggaran, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, maupun perluasan akses pembiayaan dan pemasaran.
“Sagu merupakan identitas Kabupaten Kepulauan Meranti sekaligus kekuatan ekonomi masyarakat. Karena itu kami ingin pelaku UMKM terus mendapat dukungan agar semakin berkembang. Ketika UMKM tumbuh, lapangan kerja ikut terbuka dan ekonomi daerah bergerak. Kami optimistis produk-produk sagu Meranti mampu menjadi kebanggaan daerah sekaligus bersaing di pasar nasional,” kata Lianita.
Perjalanan UMKM sagu di Kepulauan Meranti membuktikan bahwa kekayaan alam tidak akan memiliki nilai tambah tanpa kreativitas dan keberanian untuk berinovasi. Dari bahan pangan tradisional, sagu kini menjelma menjadi berbagai produk modern yang diminati masyarakat lintas daerah.
Lebih dari sekadar oleh-oleh, setiap bungkus mie sagu, brownies sagu, atau camilan khas Meranti membawa cerita tentang kerja keras para pelaku UMKM yang memilih bertahan di kampung halaman, mengolah kekayaan alam sendiri, dan membuka peluang ekonomi bagi sesama.
Di tengah gempuran produk-produk modern dari berbagai penjuru dunia, Meranti menunjukkan bahwa pangan lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat. Dari tanah sagu di pesisir Riau, sebuah cerita tentang kearifan lokal, inovasi, dan semangat kewirausahaan terus tumbuh membawa nama Kepulauan Meranti melangkah lebih jauh menuju pasar nasional, bahkan dunia. (ADV)





