DIARE masih menjadi salah satu penyakit yang sering menyerang masyarakat di berbagai kelompok usia, terutama balita. Penyakit ini tidak boleh dianggap sepele karena dapat menyebabkan dehidrasi berat yang berisiko mengancam keselamatan jiwa apabila tidak segera ditangani.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit diare dengan menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga kebersihan lingkungan, serta memastikan makanan dan minuman yang dikonsumsi aman.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengatakan bahwa sebagian besar kasus diare sebenarnya dapat dicegah melalui kebiasaan hidup bersih dan sanitasi yang baik.

“Diare merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi pada saluran pencernaan sehingga penderita mengalami buang air besar dengan frekuensi lebih sering dan konsistensi tinja cair. Penyakit ini dapat menyerang siapa saja, namun balita, lansia, dan orang dengan daya tahan tubuh rendah memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi,” ujar Ade Suhartian.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami penyebab diare agar dapat melakukan langkah pencegahan sejak dini.

Diare umumnya disebabkan oleh infeksi virus, bakteri, maupun parasit yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau minuman yang telah terkontaminasi.

Selain itu, diare juga dapat dipicu oleh beberapa faktor, antara lain, seperti mengonsumsi makanan yang tidak higienis, minum air yang tidak dimasak hingga matang, tidak mencuci tangan menggunakan sabun sebelum makan dan setelah dari toilet, sanitasi lingkungan yang buruk, keracunan makanan, intoleransi terhadap jenis makanan tertentu, dan efek samping penggunaan obat-obatan tertentu.

“Sebagian besar kasus diare berkaitan erat dengan perilaku hidup sehari-hari. Oleh sebab itu, menjaga kebersihan diri dan lingkungan menjadi langkah paling efektif dalam mencegah penyakit ini,” jelas Ade.

Penderita diare biasanya mengalami beberapa gejala, seperti, buang air besar cair sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari, mual dan muntah, nyeri atau kram perut, demam, nafsu makan menurun, tubuh terasa lemas, dan haus berlebihan akibat kehilangan cairan.

Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami dehidrasi yang ditandai dengan bibir kering, mata cekung, jarang buang air kecil, kulit terasa kering, hingga penurunan kesadaran.

Petugas kesehatan dari Puskesmas Tebingtinggi belum lama ini mengajak anak-anak sekolah untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) agar terhindar dari berbagai penyakit, khususnya Diare. (Foto: Istimewa)

Sementara itu, Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Nurmadia Damar, mengajak seluruh masyarakat membiasakan pola hidup bersih sebagai upaya utama mencegah diare.

Menurutnya, pencegahan dapat dilakukan melalui langkah-langkah sederhana namun sangat efektif, yaitu dengan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir sebelum makan serta setelah buang air besar, mengonsumsi makanan yang dimasak hingga matang, meminum air yang telah dimasak atau air minum yang aman, menjaga kebersihan peralatan makan, menutup makanan agar tidak dihinggapi lalat, menggunakan jamban yang sehat, dan menjaga kebersihan lingkungan rumah. Selanjutnya, memberikan ASI eksklusif kepada bayi sesuai anjuran, melengkapi imunisasi anak sesuai jadwal.

“Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan memakai sabun mampu menurunkan risiko penularan berbagai penyakit infeksi, termasuk diare. Karena itu kami terus mengajak masyarakat menerapkan PHBS dalam kehidupan sehari-hari,” kata Nurmadia Damar.

Apabila mengalami diare, masyarakat diimbau untuk tidak panik dan segera melakukan penanganan awal agar tidak mengalami dehidrasi.

Langkah-langkah yang dapat dilakukan antara lain, minum air putih lebih banyak, mengonsumsi oralit untuk mengganti cairan dan elektrolit yang hilang, tetap makan makanan bergizi dengan porsi kecil namun lebih sering, mengonsumsi makanan yang mudah dicerna seperti bubur, nasi, pisang, atau sup, istirahat yang cukup, mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan, segera ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila diare berlangsung lebih dari dua hari, disertai darah pada tinja, muntah terus-menerus, demam tinggi, atau tanda-tanda dehidrasi.

Ade Suhartian menegaskan bahwa penggunaan antibiotik tidak boleh dilakukan sembarangan karena tidak semua kasus diare disebabkan oleh bakteri.

“Apabila diare tidak kunjung membaik atau muncul tanda-tanda dehidrasi, segera datang ke puskesmas, klinik, atau rumah sakit terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Penanganan yang cepat dapat mencegah komplikasi yang lebih serius,” tegasnya.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti mengajak seluruh masyarakat untuk membudayakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat sebagai investasi kesehatan keluarga.

Dengan menjaga kebersihan tangan, mengonsumsi makanan dan minuman yang aman, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta segera mencari pertolongan medis ketika mengalami gejala diare, diharapkan angka kejadian diare di Kabupaten Kepulauan Meranti dapat terus ditekan sehingga masyarakat tetap sehat, produktif, dan berkualitas. (ADV)