
SERANGKAI.CO – Bayangkan seorang pemuda Aceh yang menempuh perjalanan ribuan kilometer ke Afrika Utara.
Di sana, ia ditempa dalam latihan militer keras, bahkan sempat menjaga nyawa seorang presiden yang ditakuti sekaligus dipuja dunia: Muammar Khadafi.
Pemuda itu bukan tentara bayaran. Ia punya satu tujuan: memperjuangkan tanah kelahirannya, Aceh.
Namanya adalah Muzakir Manaf – sosok yang pernah menjadi komandan Gerakan Aceh Merdeka atau GAM, dan akhirnya duduk di kursi tertinggi: Gubernur Aceh.
Muzakir Manaf lahir 3 April 1964 di Gampong Mane Kawan, Kecamatan Seunuddon, Aceh Utara, dari pasangan Manaf dan Zubaidah.
Sejak kecil, ia tumbuh di tengah suasana politik yang penuh gejolak. Aceh punya sejarah panjang pemberontakan: dari DI/TII Daud Beureueh hingga lahirnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 1976 oleh Hasan Tiro.
Sebagai remaja, Muzakir menyaksikan konflik itu dari dekat. Impiannya bukan sekadar berkarier, melainkan menjadi bagian dari perjuangan Aceh.
Ia bergabung dengan GAM pada tahun 1986, saat usianya sekitar 22 tahun. Saat itu, ia termasuk dalam gelombang awal pemuda Aceh yang direkrut untuk dikirim mengikuti pelatihan militer ke luar negeri.
Lobi-lobi Hasan Tiro sebagai pendiri GAM, di dunia internasional, membuat Presiden Libya Muammar Khadafi menaruh simpati. Ratusan pemuda Aceh dikirim ke Libya melalui Malaysia dan Singapura.
Tahun 1986–1989, Muzakir berada di Libya. Durasi pelatihannya sekitar 3 tahun. Di sanalah cerita besarnya dimulai.
* Pelatihan di Kamp Tajura Libya
Di Libya, Muzakir Manaf masuk ke kamp pelatihan militer yang keras. Negara pimpinan Muammar Khadafi itu memang terkenal mendukung banyak gerakan separatis di dunia – dari Palestina, Irlandia, Filipina, hingga Aceh.

Pusat pelatihan mereka adalah Kamp Tajura, sekitar 10 kilometer dari Tripoli. Di sanalah, pemuda-pemuda pilihan Aceh berusia belasan hingga dua puluhan tahun, mulai menjalani hari-hari berat.
Pagi hingga sore, pelatihan diisi dengan penempaan fisik, teknik tempur, penggunaan AK-47 dan senjata ringan lainnya. Termasuk mortir, strategi gerilya dan perang hutan.
Malam hari, para peserta mendapatkan doktrin dalam kelas ideologi, yang tak jarang diisi oleh Hasan Tiro langsung.
Isi materinya sejarah panjang Aceh, mulai dari kerajaan Islam hingga kolonialisme. Alasan kenapa Aceh harus merdeka. Propaganda dan public speaking: bagaimana menggerakkan massa. Ada juga diskusi sosiologi, ekonomi, hingga antropologi.
Mereka disiapkan tidak hanya sebagai kombatan, tapi juga diplomat dan propagandis. Bagi para peserta, ini bukan sekadar latihan militer, tapi juga sekolah nasionalisme Aceh.
Jumlahnya tidak sedikit: catatan menyebut sekitar 700 hingga 1.500 orang, bahkan ada klaim mencapai 5.000 orang sepanjang tahun 1986–1989.
Setiap angkatan menutup pelatihan dengan upacara kelulusan di Tripoli, dihadiri pejabat Libya, bahkan Khadafi sendiri.
Para peserta pulang dengan bangga, membawa “ijazah revolusi” dan tekad untuk memperjuangkan Aceh.
Muzakir Manaf adalah salah satu yang paling menonjol. Dia menjadi prajurit terbaik dan di pilih masuk dalam jajaran pengawal presiden Khadafi.
*Pasukan Khusus Eks Libya Mimpi Buruk Prajurit Indonesia
Sekembalinya ke tanah kelahiran, mereka langsung membentuk struktur baru GAM: Divisi Edukasi menyebarkan ideologi. Divisi Diplomasi berhubungan dengan dunia luar. Divisi Militer mengorganisir gerilya di hutan Aceh.
Bagi TNI, generasi “Eks Libya” inilah mimpi buruk.

Mereka bukan hanya berani, tapi juga disiplin, paham strategi, dan menguasai senjata modern.
Pasukan ini membuat GAM berbeda dari gerilyawan lokal lain. Bukan lagi gerilyawan kampung tapi pasukan tempur profesional.
Di kalangan kombatan GAM, Muzakir akrab dipanggil Mualem. Dalam bahasa Aceh, Mualem berarti guru atau pemimpin.
Ia menjabat panglima tertinggi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) setelah Tgk. Abdullah Syafi’i gugur pada 2002.
Julukan “Mualem” dilekatkan kepadanya sebagai bentuk penghormatan dari para kombatan GAM dan masyarakat Aceh, karena ia dianggap sebagai pemimpin dan panutan.

Pasukannya paling sulit ditaklukkan TNI, bahkan di puncak operasi militer (DOM dan Operasi Sadar Rencong).
Posisi Mualem ini bikin TNI harus menggelar operasi besar-besaran untuk melumpuhkan jaringan GAM, tapi ia tetap eksis.
Panglima tertinggi pasukan bersenjata GAM setelah generasi awal ini, memang dikenal disiplin dan loyal ke Hasan Tiro. Dia juga memobilisasi Pasukan di Luar Negeri
Latar belakang militernya di Libya, Muzakir punya koneksi internasional. Ia disebut ikut membantu perekrutan dan pelatihan anggota GAM di luar negeri, lalu menghubungkan mereka dengan logistik senjata.
Nama “Mualem” jadi ikon di kalangan kombatan dan simbol perlawanan. Kalau ada operasi militer, kabar kehadiran Mualem bisa menaikkan moral pasukan GAM.
Buat TNI, ini problematis: meski banyak tokoh GAM tertangkap atau terbunuh, keberadaannya justru bikin semangat perlawanan hidup.
*Dampak dan Akhir Konflik
Sebesar apapun pasukan “Eks Libya” ini, konflik tak kunjung membawa kemenangan. Korban sipil mencapai 12 ribu jiwa, TNI/Polri kehilangan sekitar 3–5 ribu personel, dan ribuan kombatan GAM tewas di hutan.
Akhirnya, tsunami 2004 mengubah segalanya. Perjanjian Helsinki 2005 menutup era senjata, membuka jalan politik.
Mualem tidak lagi memimpin pasukan bersenjata di hutan, melainkan memimpin perjuangan di jalur politik.
Ia mendirikan dan memimpin Partai Aceh, partai lokal yang menjadi wadah mantan kombatan GAM. Saat mendirikan Partai Aceh, kekuatannya nyaris mutlak di tingkat lokal.
Banyak lawan politik menudingnya seperti “pemerintah dalam pemerintah”, karena mantan kombatan solid mendukungnya.
Bagi sebagian kalangan TNI/Pemerintah RI, ini dikhawatirkan bisa jadi modal untuk agenda-agenda politik Aceh yang terlalu eksklusif.
Partai ini kemudian menjadi kekuatan politik terbesar di Aceh, mendominasi parlemen, bahkan menempatkan kader-kadernya di jabatan eksekutif.
Puncak karier politiknya terjadi ketika Muzakir Manaf berhasil menduduki kursi Gubernur Aceh.
*Disegani Jakarta
Meski saat ini Mualem sudah menjadi pejabat di daerah, Mualem tetap kritis. Ia kadang mengeluarkan pernyataan keras jika merasa pemerintah pusat mengingkari butir-butir perjanjian, terutama soal kewenangan Aceh dan simbol bendera bulan bintang.
Sikapnya ini sering bikin Jakarta dan aparat pusat “gerah”, karena dianggap membuka ruang nostalgia separatisme.
Jadi, bisa dibilang Muzakir Manaf bikin kesal pemerintah dan TNI di dua fase:
Saat konflik, karena militernya tangguh, disiplin, dan susah ditangkap.
Saat damai, karena pengaruh politiknya besar, serta kadang menyuarakan hal-hal yang dianggap “menghidupkan lagi” semangat GAM.
Kasus terakhir yang masih segar diingatan, sebuah keputusan dari pusat. Tiba-tiba menghapus empat pulau dari peta Aceh.
Mangkir Gadang, Mangkir Ketek, Lipan, dan Panjang. Pulau-pulau kecil, tapi punya arti besar: simbol harga diri dan kedaulatan Aceh.
April 2025, Mendagri Tito Karnavian menandatangani sebuah surat keputusan. Isinya mengejutkan: empat pulau itu kini masuk ke wilayah Sumatera Utara. Seolah Aceh tak punya hak atas tanah yang sudah berabad-abad menjadi bagian sejarahnya.
Reaksi keras pun muncul. Muzakir Manaf berdiri tegas. Dengan suara lantang ia berkata: “Pulau itu hak Aceh. Bukti kami lengkap, sejarah dan adat bersama kami. Tidak bisa dipindahkan begitu saja.”
Dalam sebuah pertemuan dengan Gubernur Sumut, Mualem bahkan memilih pergi—daripada tunduk pada keputusan yang dianggap melukai marwah Aceh.
Krisis ini membuat Presiden Prabowo turun tangan. Negosiasi panjang, tarik menarik kepentingan. Hingga akhirnya, pertengahan Juni 2025, keputusan keluar: Empat pulau itu, resmi kembali ke Aceh.
Pulau-pulau itu kini bukan sekadar hamparan tanah di lautan. Mereka menjadi saksi, bahwa harga diri sebuah bangsa tidak bisa ditukar dengan selembar surat keputusan.
Sekali lagi sejarah membuktikan, marwah Aceh tidak mudah digoyahkan.
Pemandangan unik juga terlihat saat Muzakir mengikuti retret kepala daerah di AKMIL Magelang pada Februari 2025 lalu.
Pada satu momen terlihat Presiden Prabowo dan Muzakir saling memberi hormat ala militer. Dua orang yang sama-sama eks komandan pasukan khusus itu tampak saling menunjukkan rasa hormat dan saling berpelukan.
Momen itu menunjukkan bahwa posisi Muzakir Manaf dan Aceh cukup disegani oleh pemerintah pusat, termasuk di bawah pemerintahan Jenderal Prabowo Subianto.
Kisah Muzakir Manaf menunjukkan satu hal: sejarah sering melahirkan tokoh yang melampaui zamannya. Seorang pemuda Aceh yang pernah menjadi pengawal diktator dunia, berubah menjadi pemimpin di tanah kelahirannya.
Dari Libya hingga Banda Aceh, dari perang hingga perdamaian – inilah perjalanan seorang Muzakir Manaf alias Mualem. (sr01)





