
UNTUK pertama kalinya, pelaksanaan Festival Perang Air dilaksanakan pada awal Bulan Ramadhan 1447 Hijriyah. Perang Air dilaksanakan mulai Selasa (17/2/2026) sampai dengan Minggu (22/2/2026).
Sedangkan Bulan Puasa, Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Ramadhan 1447 Hijriyah pada Rabu (18/2/2026). Sementara, Nahdlatul Ulama (NU) dan pemerintah telah mengumumkan setelah Sidang Isbat bahwa 1 Ramadhan jatuh pada Kamis (19/2/2026).
Dengan begitu, masyarakat yang khususnya beragama Islam di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, akan mengawali puasa saat Festival Perang Air berlangsung.
Festival Perang Air merupakan iven daerah. Namun kini, sudah menjadi iven nasional.
Sebuah iven pariwisata. Dimana pelaksanaannya bertepatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek setiap tahunnya.
Festival ini berlangsung selama 6 hari. Mulai Imlek hari pertama, hingga hari ke enam.
Saat itu, banyak masyarakat tionghoa yang pulang kampung untuk merayakan Imlek bersama dengan keluarga besar di Selatpanjang. Selain dari berbagai daerah di Indonesia, biasanya juga ada yang dari Malaysia dan Singapura.
Dari data di Pelabuhan Tanjung Harapan Selatpanjang, rata-rata kedatangan orang setiap tahunnya, saat Imlek bisa mencapai 20 hingga 25 ribu orang.
Momentum ini lah yang menjadikan Festival Perang Air akhirnya menjadi hidup dan banyak diminati. Sehingga layak dijadikan iven wisata. Karena menimbulkan daya tarik.
Apalagi efek dari festival membawa berkah bagi masyarakat lokal. Mulai dari tukang beca yang kebanjiran orderan, sampai pedagang makan minum yang kebanjiran rezeki.
Namun, karena tahun ini dilaksanakan bertepatan dengan awal Ramadhan, pemerintah perlu melakukan pengaturan yang tepat. Sehingga iven tersebut bisa terus dilaksanakan, tanpa mengganggu kekusyukan masyarakat muslim yang sedang menjalankan ibadah Puasa.
Apalagi, momentum Ramadhan, juga menjadi waktu bagi masyarakat muslim Selatpanjang untuk pulang kampung. Ditambah lagi, anak kuliah dan sekolah juga akan libur. Sehingga, bisa saja jumlah kedatangan orang ke Selatpanjang menjadi lebih banyak lagi.
Saat Ramadhan juga terjadi peningkatan ekonomi. Masyarakat akan banyak berjualan takjil atau menu berbuka puasa. Dimana pasar Ramadhan yang dipusatkan di Jalan Ahmad Yani, juga menjadi salah satu rute pelaksanaan Festival Perang Air.
Dari Kebiasaan
Dari catatan redaksi serangkai.co, Festival Perang Air berawal dari kebiasaan masyarakat. Awalnya, masyarakat tionghoa yang balek kampung, mengisi waktu di sore hari berkeliling Kota Selatpanjang menggunakan beca. Mulai dari tua, muda, sampai anak-anak memenuhi wilayah jalur kota. Apalagi, umumnya, ruko dan toko yang berada di jalur-jalur utama Kota Selatpanjang didominasi oleh warga keturunan tersebut.
Sekitar tahun 2011, kalangan muda mudi dan anak-anak sudah ada yang mulai membawa mainan pistol air dan busa semprot. Mereka saling mengusili kawan mereka dengan menembakkan pistol air dan busa semprot kaleng. Hal itu menjadi kegembiraan mereka waktu itu.
Semakin lama, jumlahnya semakin masif. Bahkan, sudah mulai terlihat warga lokal pribumi juga sudah ikut serta.
Di tahun-tahun berikutnya, semakin ramai. Perang airnya pun berkembang, dan mulai berangsur menyiram menggunakan air dari selang, menyiram menggunakan gayung, melempar air bungkusan plastik, sampai ada yang menggunakan air mineral kemasan gelas.
Karena kebiasaan permainan itu semakin besar, jalur lintas utama di Kota Selatpanjang sampai macet akibat permainan ini. Ada yang menggunakan sepeda motor, beca, hingga motor bak roda tiga.
Perkembangan dari permainan itu membawa dampak positif bagi daerah, pelaku usaha dan masyarakat. Melihat perkembangan itu, pada tahun 2014, pemerintah berkolaborasi dengan kepolisian dan Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kepulauan Meranti untuk menjadikan kebiasaan pada petang hari saat Imlek itu menjadi sebuah iven wisata.
Karena berbagai syarat untuk menjadi sebuah iven pariwisata sudah terpenuhi. Mulai dari kunjungan yang khusus hanya untuk mengikuti perang air mulai berdatangan. Terus, menimbulkan multiplier efek yang luas. Terutama sektor ekonomi.
Maka, untuk pertama kalinya dibuat aturan dan ketentuan agar perang air menjadi sebuah iven wisata. Mulai dari penetapan nama, rute, ketentuan permainan dan jaminan keamanan.
Mulailah disusun oleh ketiga aktor yang berkolaborasi saat itu. H Ismail Arsyad S Sos MSi saat itu menjadi sebagai Kadis Pariwisata Kepulauan Meranti, AKBP Zahwani Pandra Arsyad SH MSi yang saat itu menjabat kapolres, dan Raden Uyung Salis selaku Ketua PHRI.
Gebrakan ketiga aktor itu juga disupport Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kepulauan Meranti yang membantu menginformasikan kegiatan perang air. Mulai dari ikut membantu melakukan pembahasan, penetapan, penyusunan, hingga membantu mempromosikan.
Saat itu ditetapkan namanya, Festival Perang Air. Atau dalam bahasa tionghoa lokal disebut juga cian cui. Jalur pelaksanaan, di Jalan Kartini, Jalan Imam Bonjol, Jalan Ahmad Yani, Jalan Tebingtinggi, dan Jalan Diponegoro. Selama pelaksanaan festival, jalan tersebut akan diberlakukan buka tutup dengan memprioritaskan peserta festival. Rute tersebut masih digunakan hingga saat ini.
Agar tidak bersinggungan dengan masyarakat muslim yang mungkin akan melintasi jalur Perang Air, saat memasuki Shalat Ashar, makanya pelaksanaan festival dimulai setelah Shalat Ashar dan harus berakhir sebelum Shalat Magrib. Saat itu diputuskan festival dimulai pukul 16.00 hingga pukul 18.00 Wib.
Saat itu, jalur festival juga diberlakukan satu arah. Agar tidak terjadi kemacetan yang sangat parah. Keamanan juga akan disiagakan di sepanjang jalur dan persimpangan. Mulai dari Dinas Perhubungan, Satpol PP hingga kepolisian.
Saat itu juga ditetapkan peraturan pelaksanaan. Dimana hanya boleh menyemprot menggunakan air bersih, memakai pistol air, atau menyimbah air memakai gayung, ataupun menyemprot air menggunakan selang.
Busa semprot, air bungkus plastik dan air mineral kemasan gelas pun akhirnya tidak diperbolehkan lagi. Karena dari hasil evaluasi, selain berpotensi membuat cidera, juga berpotensi menimbulkan konflik.
Sejak saat itu, hingga kini iven tersebut konsisten terlaksana setiap tahunnya. Hanya saat Covid-19 saja tidak boleh dilaksanakan.
Masuk KEN
Tahun ini, iven tersebut masuk dalam daftar Karisma Event Nusantara (KEN) 2026. Hal itu berdasarkan Keputusan Menteri Pariwisata Nomor SK/2/HK.01.02/MP/2026 yang ditetapkan pada 12 Januari 2026.
Dengan status tersebut, Festival Perang Air tidak lagi sekadar agenda lokal, tetapi menjadi bagian dari kalender promosi pariwisata nasional yang akan dipublikasikan secara luas oleh Kementerian Pariwisata, kepada wisatawan nusantara maupun mancanegara.
Dalam KEN 2026, Kementerian Pariwisata menetapkan 125 event unggulan dari seluruh Indonesia, terdiri dari 10 Top KEN dan 115 KEN reguler. Festival Perang Air Kepulauan Meranti dinilai layak masuk daftar tersebut karena kekuatan tradisi, tingginya partisipasi masyarakat, serta dampak ekonomi yang nyata.
Dengan dukungan itu, akan menjadikan Festival Perang Air 2026 menjadi kegiatan yang berpotensi lebih besar lagi. Tentunya semakin diuji keberagaman di Kota Selatpanjang.
Untuk mengantisipasi dua momentum besar berjalan hampir serentak, Pemerintah Kabupaten kepulauan Meranti terus meningkatkan koordinasi agar pelaksanaan festival pada momen ramadhan bisa berjalan berdampingan.
Makanya, pelaksanaan Bazar Ramadhan yang biasa nya dilaksanakan di Jalan Ahmad Yani, dipindahkan ke Jalan Merdeka, Selatpanjang. Sehingga bazar bisa terlaksana tanpa mengganggu festival.
Selain itu, pemerintah setempat juga merevisi jadwal pelaksanaan perang air. Semula, dijadwalkan dimulai pukul 14.30 Wib dan berakhir, pukul 17.00 Wib.
Kemudian, menimbang dan mengingat pelaksanaan Shalat Ahar, dimundurkan, Perang Air mulai dilaksanakan 15.30 Wib hingga pukul 17.30 Wib.
Tahun ini menjadi pertaruhan, sekaligus ujian toleransi keberagaman di Kabupaten Kepulauan Meranti. Jika semua pihak memiliki visi yang sama untuk kemajuan daerah, seharusnya bisa beriringan antara Festival Perang Air 2026, Ramadhan 1447 Hijriyah, dan Imlek 2577 Kongzili. ***





