
INTERNASIONAL – Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum/WEF) 2026 di Davos, Swiss, identik dengan diskusi serius soal geopolitik, investasi, dan masa depan ekonomi global. Namun di sela forum paling prestisius itu, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto justru menciptakan momen tak terduga.
Di tengah dinginnya salju Davos dan padatnya agenda kepala negara, Prabowo menyempatkan diri bertemu legenda hidup sepak bola dunia, Zinedine Zidane.
Pertemuan yang terbilang langka ini dikonfirmasi langsung oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya melalui unggahan media sosialnya. Teddy menyebut, pertemuan berlangsung tak lama setelah Prabowo menyampaikan pidato penting mengenai konsep Prabowonomics di panggung WEF, Kamis (22/1/2026).
“Setelah menyampaikan konsep Prabowonomics di World Economic Forum, Presiden Prabowo melakukan pertemuan dengan legenda sepak bola sekaligus pelatih ternama asal Prancis, Zinedine Zidane,” tulis Teddy, Minggu (25/1/2026).
Pertemuan ini menegaskan bahwa misi Prabowo di Davos tidak semata urusan ekonomi. Presiden menunjukkan perhatian serius pada sektor olahraga, khususnya sepak bola, sebagai bagian dari pembangunan nasional.
Bukan sosok sembarangan yang diajak berdiskusi. Zidane adalah ikon sepak bola dunia, mantan pelatih Real Madrid yang mencatat sejarah dengan tiga gelar Liga Champions secara beruntun. Fakta ini membuat pertemuan tersebut semakin sarat makna.
Menariknya, diskusi berlangsung sekitar 45 menit—durasi yang cukup panjang di tengah jadwal ketat seorang presiden.
“Dalam pertemuan tersebut, Presiden Prabowo menyampaikan keinginan besarnya untuk terus memajukan sepak bola Tanah Air dan Tim Nasional,” ungkap Teddy.
Bagi Prabowo, sepak bola bukan sekadar olahraga, melainkan simbol persatuan dan kebanggaan bangsa. Ia memanfaatkan momen ini untuk menggali wawasan langsung dari figur global tentang manajemen sepak bola modern, pembinaan usia dini, hingga pembentukan mental juara bagi Timnas Indonesia.
Salah satu poin paling menarik adalah visi Prabowo tentang pembangunan dari akar rumput. Ia menilai prestasi besar tidak akan lahir tanpa fondasi yang kuat.
Karena itu, Prabowo mengungkap rencana kebijakan konkret: setiap sekolah baru wajib memiliki lapangan sepak bola.
“Serta rencananya agar setiap sekolah baru harus memiliki lapangan sepak bola yang dapat digunakan siswa dan anak-anak di sekitar sekolah,” jelas Teddy.
Gagasan ini memperlihatkan pendekatan jangka panjang—mencetak bibit unggul sejak dini melalui akses fasilitas yang merata.
Tak hanya berbicara, Prabowo juga menunjukkan sikap sebagai pembelajar. Ia secara khusus meminta masukan dan saran dari Zidane terkait pengembangan sepak bola nasional.
“Presiden Prabowo juga meminta petuah dan saran sang maestro Zidane terhadap perkembangan sepak bola nasional,” pungkas Teddy.
Pertemuan di Davos ini pun menjadi potret unik diplomasi Indonesia: ekonomi dibahas di forum dunia, sementara masa depan sepak bola nasional digodok bersama legenda global. Sebuah sinyal bahwa pembangunan, bagi Prabowo, tidak hanya soal angka, tetapi juga tentang mimpi dan kebanggaan bangsa.





