Pelatih gajah (mahout) menyaksikan gajah binaan bernama Diego ditemukan mati di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, Kabupaten Siak, Rabu (16/9/2026). Diego sebelumnya sempat menjalani perawatan intensif setelah mengalami gangguan kesehatan. (Foto: Istimewa)

SIAK (serangkai.co) — Diego, gajah binaan di Pusat Latihan Gajah (PLG) Minas, dinyatakan mati setelah menjalani perawatan intensif oleh tim dokter hewan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau, Rabu (16/9/2026) sekitar pukul 12.00 WIB.

Berdasarkan hasil bedah bangkai (nekropsi), penyebab kematian Diego diduga akibat infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis.

Plh Kepala BBKSDA Riau, Ujang Holisudin, mengatakan gangguan kesehatan Diego mulai terlihat sejak 10 September 2026.

“Kondisi kesehatan Diego menurun, ditandai dengan kotoran encer dan berkurangnya nafsu makan,” jelas Ujang.

Berdasarkan pemeriksaan awal, tim medis BBKSDA Riau menduga Diego mengalami cacingan setelah menemukan beberapa cacing pada kotorannya.

Tim medis kemudian memberikan obat antibiotik, antiradang atau antiinflamasi, serta obat cacing.

“Setelah beberapa hari mendapat pengobatan intensif, kondisi Diego sempat menunjukkan perkembangan. Nafsu makannya meningkat dan bentuk kotorannya mulai kembali normal,” ujar Ujang.

Untuk memastikan kondisi kesehatan Diego, tim medis membawa sampel feses ke Laboratorium PPS Yayasan Arsari Djodjohadikusumo di Pekanbaru untuk dilakukan pemeriksaan.

Namun, pada Selasa (15/9/2026), mahout kembali melaporkan Diego dalam kondisi sakit. Gajah jantan tersebut tidak mau makan sama sekali dan mengalami diare dengan frekuensi sering, dengan kotoran yang keluar hanya berupa cairan.

“Kondisi fisiknya juga sangat lemah. Aktivitas minumnya sangat minim. Pada pagi hari Diego hanya minum sekitar lima tegukan, siang tiga tegukan saat akan diberikan obat, dan sore satu tegukan ketika dimandikan,” kata Ujang.

Tim medis BBKSDA Riau kembali melakukan penanganan dengan memberikan cairan infus, obat-obatan suportif seperti vitamin, serta obat antiradang dan antiinflamasi.

“Sampel feses juga kembali diambil untuk pemeriksaan parasit,” ucap Ujang.

Pada Rabu (16/9/2026), tim medis melanjutkan perawatan dengan mengambil sampel darah, memberikan cairan infus dan obat-obatan lainnya.

“Saat hendak menjalani penanganan lanjutan, kondisi Diego tiba-tiba menurun. Gajah tersebut terduduk dan kemudian tumbang. Tidak lama berselang, tanda-tanda vitalnya menghilang dan Diego dinyatakan mati sekitar pukul 12.00 WIB,” imbuh Ujang.

Setelah dilakukan nekropsi, tim medis menduga kematian Diego disebabkan infeksi saluran pencernaan yang bersifat kronis. Untuk memastikan diagnosis, tim medis mengambil sejumlah sampel organ untuk pemeriksaan laboratorium.

Setelah seluruh proses pemeriksaan selesai, jenazah Diego kemudian dikuburkan sesuai prosedur yang berlaku.

Diego merupakan gajah Sumatera jantan jinak berusia sekitar 17 tahun yang lahir pada 3 September 2009. Ia merupakan anak dari induk betina Vera dan induk jantan Reno serta dibesarkan di PLG Minas.

Selama berada di PLG Minas, Diego menjadi salah satu gajah binaan yang berperan dalam menyambut para pengunjung. (sr05)