
PERAN Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya percepatan eliminasi Tuberkulosis (TBC) dengan mengedepankan kolaborasi seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Sinergi antara puskesmas, rumah sakit, klinik, hingga praktik mandiri dokter dinilai menjadi kunci dalam mempercepat penemuan kasus, pengobatan, serta memutus mata rantai penularan penyakit tersebut.
Berdasarkan data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB), capaian penemuan kasus TBC hingga Juni 2026 masih perlu ditingkatkan. Karena itu, seluruh fasilitas kesehatan didorong lebih aktif melakukan skrining terhadap masyarakat yang memiliki gejala TBC, melaporkan setiap kasus yang ditemukan, serta memberikan pendampingan kepada pasien hingga menyelesaikan pengobatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, dr. Ade Suhartian, mengatakan keberhasilan program eliminasi TBC tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah. Menurutnya, diperlukan keterlibatan seluruh tenaga kesehatan, lintas sektor, serta dukungan masyarakat agar upaya pengendalian TBC berjalan optimal.
“Kami berharap seluruh fasilitas kesehatan semakin aktif melakukan skrining dan pelaporan kasus. Dengan kolaborasi yang kuat, target eliminasi TBC dapat kita capai sehingga masyarakat Meranti hidup lebih sehat dan produktif,” ujarnya.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, Dinas Kesehatan juga terus melaksanakan monitoring dan evaluasi program, investigasi kontak terhadap keluarga maupun orang yang berinteraksi erat dengan pasien, serta memastikan setiap penderita menjalani pengobatan hingga tuntas. Langkah ini penting untuk mencegah penularan sekaligus menghindari munculnya kasus TBC yang resisten terhadap obat.

Dukungan terhadap langkah Dinas Kesehatan juga datang dari Anggota Komisi III DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti, Dr. M. Taufikurrahman. Ia menilai penanggulangan TBC harus menjadi gerakan bersama karena menyangkut kualitas kesehatan masyarakat dan masa depan daerah.
Menurutnya, DPRD siap mendukung kebijakan pemerintah daerah melalui fungsi pengawasan maupun penganggaran agar program eliminasi TBC dapat berjalan maksimal hingga ke pelosok desa.
“Kami mengapresiasi langkah Dinas Kesehatan yang terus memperkuat kolaborasi dengan seluruh fasilitas kesehatan. Penanganan TBC membutuhkan kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, tenaga kesehatan, hingga masyarakat. DPRD akan terus memberikan dukungan agar program ini berjalan optimal dan target eliminasi TBC dapat tercapai sesuai yang diharapkan,” kata Dr. M. Taufikurrahman.
Ia juga mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami gejala TBC, seperti batuk selama dua minggu atau lebih, karena pemeriksaan dan pengobatan tersedia di fasilitas kesehatan pemerintah.
Melalui kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah daerah, DPRD, tenaga kesehatan, dan masyarakat, Kabupaten Kepulauan Meranti optimistis mampu meningkatkan penemuan kasus, mempercepat pengobatan, serta mewujudkan target eliminasi TBC demi terciptanya masyarakat yang sehat, produktif, dan berkualitas. (ADV)





