Cegah DBD Meluas, Dinkes Meranti Sudah Lakukan 7 Kali Fogging Berbasis Penyelidikan Epidemiologi. (foto; istimewa)

UPAYA pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kepulauan Meranti terus diperkuat dengan langkah yang terukur dan berbasis data. Sepanjang tahun 2026, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti melalui sejumlah UPT Puskesmas telah melaksanakan tujuh kali fogging di wilayah yang dinilai memenuhi indikator berdasarkan hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE).

Pelaksanaan fogging tersebut tersebar di tiga wilayah kerja puskesmas, yakni Puskesmas Selatpanjang sebanyak dua kali di kawasan Selatpanjang Kota pada Februari dan Juni, Puskesmas Alah Air sebanyak dua kali di Banglas Barat pada Mei dan Juni, serta Puskesmas Sungai Tohor sebanyak tiga kali yang menyasar wilayah Teluk Buntal sebanyak dua kali dan Sendanu sebanyak satu kali pada Juli.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, S.KM, mengatakan pelaksanaan fogging tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan berdasarkan rekomendasi hasil penyelidikan epidemiologi yang dilakukan petugas kesehatan di lapangan.

“Fogging itu dilaksanakan berdasarkan rekomendasi dari hasil PE atau Penyelidikan Epidemiologi kasus. Jadi, ada indikator yang menjadi dasar, di antaranya jumlah kasus atau penderita yang mengalami demam serta temuan jentik nyamuk di lingkungan sekitar,” ujar Widya.

Menurutnya, PE menjadi bagian penting dalam menentukan langkah penanganan di suatu wilayah. Petugas akan melakukan penelusuran terhadap kondisi lingkungan dan faktor risiko penularan untuk memastikan tindakan pengendalian dapat dilakukan secara tepat sasaran.

Widya menegaskan, fogging bukan satu-satunya upaya dalam mencegah penyebaran DBD. Masyarakat tetap memiliki peran penting dalam memutus mata rantai perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, terutama dengan menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).

“Fogging hanya salah satu langkah pengendalian ketika memang berdasarkan hasil PE memenuhi indikator. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat bersama-sama melakukan pemberantasan sarang nyamuk, terutama dengan menghilangkan tempat-tempat yang berpotensi menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengajak masyarakat untuk tidak hanya mengandalkan fogging dalam upaya pencegahan DBD. Menurutnya, keberhasilan pengendalian penyakit tersebut sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam menjaga lingkungan masing-masing.

“Kami mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap DBD. Jangan menunggu sampai terjadi kasus baru kemudian bergerak. Upaya pencegahan harus dilakukan sejak dari rumah dan lingkungan sekitar dengan menerapkan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin,” kata Ade.

Ade menambahkan, Dinas Kesehatan bersama jajaran puskesmas akan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kesehatan masyarakat dan lingkungan. Apabila ditemukan indikasi yang memenuhi kriteria berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, maka langkah pengendalian akan dilakukan sesuai dengan rekomendasi dan kebutuhan di lapangan.

“Kami ingin penanganan DBD dilakukan secara tepat, cepat dan berbasis hasil pemantauan di lapangan. Namun, kami juga berharap masyarakat menjadi garda terdepan dalam pencegahan. Karena fogging tidak akan maksimal jika sumber perkembangbiakan nyamuk tidak diberantas,” tegasnya.

Dengan pendekatan berbasis hasil PE tersebut, upaya pengendalian DBD di Kepulauan Meranti diharapkan semakin efektif dan tepat sasaran. Masyarakat pun diimbau untuk menerapkan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup tempat penyimpanan air, mendaur ulang atau memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, serta melakukan langkah pencegahan lainnya.

Pesan utamanya jelas: fogging dilakukan ketika indikator epidemiologis menunjukkan kebutuhan, sementara pencegahan DBD harus menjadi gerakan bersama yang dimulai dari lingkungan rumah masing-masing. (ADV)