
UNTUK terus memperkuat langkah pencegahan Demam Berdarah Dengue (DBD), Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti akan melaksanakan program larvasidasi massal. Kegiatan ini akan dilaksanakan secara serentak di seluruh wilayah kabupaten.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu strategi utama pemerintah daerah dalam memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti sejak fase jentik, sehingga diharapkan mampu menekan potensi peningkatan kasus DBD, terutama pada musim yang berisiko tinggi terhadap perkembangbiakan nyamuk.
Program larvasidasi akan dilaksanakan oleh seluruh jaringan pelayanan kesehatan, mulai dari UPT Puskesmas, Puskesmas Pembantu (Pustu), Pos Kesehatan Desa (Poskesdes), hingga fasilitas kesehatan lainnya yang tersebar di Kabupaten Kepulauan Meranti.
Pelaksanaannya juga akan melibatkan berbagai unsur lintas sektor di masing-masing wilayah kerja, seperti pemerintah kecamatan, pemerintah desa, TP PKK, kader kesehatan, sekolah, organisasi kemasyarakatan, hingga relawan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menjangkau seluruh lingkungan permukiman masyarakat agar upaya pemberantasan sarang nyamuk berlangsung lebih optimal.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengatakan pencegahan DBD tidak dapat hanya mengandalkan pelayanan kesehatan, tetapi memerlukan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.
“Larvasidasi merupakan langkah preventif yang sangat efektif untuk memutus rantai perkembangbiakan nyamuk penyebab DBD. Karena itu, kami akan mendistribusikan bubuk abate ke seluruh fasilitas kesehatan hingga menjangkau desa-desa agar masyarakat lebih mudah memperoleh dan menggunakannya sesuai petunjuk,” kata Ade.
Ia menegaskan, distribusi abate akan dilakukan secara bertahap melalui seluruh fasilitas kesehatan sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam memperkuat upaya pencegahan sebelum terjadi peningkatan kasus.
Selain larvasidasi, Dinas Kesehatan juga akan mengoptimalkan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Edukasi tersebut menyasar seluruh kelompok umur, mulai dari anak-anak, remaja, hingga orang dewasa, baik di sekolah, lingkungan kerja maupun masyarakat umum.

Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Nurmadia Damar, mengatakan perubahan perilaku masyarakat menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran DBD.
“Upaya pencegahan akan lebih berhasil apabila masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan. Kami terus mengajak masyarakat menerapkan PHBS, rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah air, mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta menggunakan bubuk abate sesuai anjuran,” jelas Nurmadia.
Menurutnya, pemberantasan sarang nyamuk (PSN) secara rutin harus menjadi budaya di tengah masyarakat. Dengan lingkungan yang bersih dan bebas jentik nyamuk, risiko penularan DBD dapat ditekan secara signifikan.
Melalui sinergi pemerintah, tenaga kesehatan, lintas sektor, dan seluruh masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti optimistis angka kasus DBD dapat ditekan sehingga masyarakat dapat hidup lebih sehat, aman, dan terbebas dari ancaman penyakit yang ditularkan nyamuk. (ADV)





