
PIHAK Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti terus memperkuat upaya percepatan penemuan kasus Tuberkulosis (TBC) melalui strategi jemput bola yang melibatkan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah dalam menekan angka penularan sekaligus meningkatkan keberhasilan pengobatan bagi masyarakat.
Tuberkulosis hingga kini masih menjadi salah satu persoalan kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian serius. Berdasarkan capaian semester pertama Tahun 2026, penemuan kasus baru TBC di Kabupaten Kepulauan Meranti baru mencapai 42,19 persen dari target yang telah ditetapkan. Kondisi tersebut menjadi evaluasi sekaligus motivasi bagi Dinas Kesehatan untuk meningkatkan berbagai upaya percepatan penemuan kasus secara aktif.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, dr. Ade Suhartian, mengatakan penanganan TBC tidak dapat hanya mengandalkan pasien yang datang berobat ke fasilitas kesehatan. Menurutnya, diperlukan langkah proaktif melalui penelusuran kontak erat dan pemeriksaan terhadap masyarakat yang berisiko terpapar.
“Kami terus mengoptimalkan investigasi kontak kepada keluarga dan orang yang tinggal serumah dengan pasien TBC. Langkah ini penting agar penderita dapat ditemukan lebih cepat sehingga segera mendapatkan pengobatan dan mata rantai penularan bisa diputus,” ujar dr. Ade Suhartian.
Ia menjelaskan, investigasi kontak merupakan salah satu strategi paling efektif dalam menemukan penderita TBC yang belum terdiagnosis. Petugas kesehatan melakukan kunjungan dan pemeriksaan kepada anggota keluarga maupun orang yang memiliki kontak erat dengan pasien agar gejala dapat dikenali sejak dini.
Selain memperkuat investigasi kontak, Dinas Kesehatan juga secara rutin melaksanakan monitoring dan evaluasi ke seluruh puskesmas, rumah sakit, klinik, serta praktik mandiri dokter. Kegiatan tersebut bertujuan memastikan seluruh fasilitas kesehatan menerapkan standar pelayanan TBC sesuai pedoman nasional, mulai dari proses skrining, diagnosis, pengobatan hingga pelaporan kasus.
Menurut dr. Ade, keberhasilan program eliminasi TBC sangat bergantung pada sinergi semua pihak, baik tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan, maupun masyarakat. Edukasi mengenai gejala TBC, pentingnya pemeriksaan dini, serta kepatuhan menjalani pengobatan juga terus digencarkan agar angka kesembuhan semakin meningkat.
“TBC dapat disembuhkan apabila pasien menjalani pengobatan secara teratur hingga tuntas. Karena itu kami mengajak masyarakat untuk tidak takut memeriksakan diri apabila mengalami batuk selama dua minggu atau lebih, terlebih jika disertai penurunan berat badan, demam, atau berkeringat di malam hari,” katanya.

Dinas Kesehatan juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna mendukung target nasional eliminasi Tuberkulosis. Berbagai kegiatan promosi kesehatan, penyuluhan, serta peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dilakukan secara berkelanjutan agar layanan deteksi dini semakin optimal hingga ke wilayah terpencil.
Upaya tersebut mendapat dukungan dari Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Komisi III, Dr. M. Taufikurrahman. Menurutnya, percepatan penemuan kasus melalui strategi jemput bola merupakan langkah yang tepat untuk melindungi masyarakat dari penyebaran penyakit menular tersebut.
“Kami di Komisi III DPRD Kepulauan Meranti mendukung penuh langkah Dinas Kesehatan dalam memperkuat investigasi kontak dan deteksi dini TBC. Pencegahan dan penemuan kasus secara cepat merupakan investasi penting bagi kesehatan masyarakat. Kami berharap seluruh elemen, termasuk pemerintah desa dan masyarakat, ikut berperan aktif agar target eliminasi Tuberkulosis dapat tercapai,” ujar Dr. M. Taufikurrahman.
Ia menambahkan, DPRD akan terus memberikan dukungan terhadap program-program kesehatan yang menyentuh langsung kebutuhan masyarakat, termasuk melalui penguatan anggaran, pengawasan, serta mendorong kolaborasi lintas sektor. Menurutnya, keberhasilan penanggulangan TBC tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian seluruh masyarakat.
Dengan strategi jemput bola yang semakin diperkuat, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti optimistis capaian penemuan kasus TBC akan terus meningkat pada semester berikutnya.
Semakin cepat penderita ditemukan dan diobati, semakin besar peluang kesembuhan sekaligus semakin kecil risiko penularan di tengah masyarakat. Melalui kerja sama semua pihak, target eliminasi Tuberkulosis di Kabupaten Kepulauan Meranti diharapkan dapat terwujud secara bertahap. (ADV)





