
PENDERITA stunting terjadi akibat kurang banyak mendapatkan makanan bergizi. Agar angkanya dapat ditekan secara drastis, maka pemenuhan makanan bergizi kepada masyarakat harus dipastikan terpenuhi unsur gizi dan kesehatannya.
Pengecekan tersebut dilakukan pihak UPT Puskesmas Alai, Kecamatan Tebingtinggi Barat. Bersama unsur Upika dan Dinas Kesehatan, tahapan dimulai dari rapat koordinasi lintas sektoral.
Kemudian dilanjutkan dengan melakukan pengecekan Strategi Pencegahan Penanganan Gizi (SPPG) yang ada di wilayah Alai. Aksi dilanjutkan dengan melakukan evaluasi.
Dengan langkah- langkah tersebut, menjadikan kualitas makanan yang dibagikan secara gratis itu nantinya terjamin sehat dan bergizi.
Tugas itu juga yang membuat UPT Puskesmas Alai terus memastikan pemenuhan gizi ini juga sebagai upaya percepatan penurunan stunting di wilayah kerja Kecamatan Tebingtinggi Barat. Berbagai kegiatan dilakukan secara terpadu, mulai dari monitoring pelaksanaan program, evaluasi Pemberian Makanan Tambahan (PMT), hingga rapat koordinasi lintas sektor.

Kepala UPT Puskesmas Alai, dr. Farid Moses, turun langsung melakukan monitoring pelaksanaan SPPG di sejumlah desa dalam wilayah kerja Puskesmas Alai. Monitoring tersebut bertujuan memastikan seluruh rangkaian program berjalan sesuai standar, mulai dari sasaran penerima manfaat, kualitas pelayanan, hingga pelaporan kegiatan.
Selain itu, dr. Farid Moses juga memimpin evaluasi pelaksanaan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bersama para kader kesehatan di Kecamatan Tebingtinggi Barat. Evaluasi dilakukan untuk melihat efektivitas program, mengidentifikasi kendala di lapangan, serta menyusun langkah perbaikan agar intervensi gizi kepada balita dan ibu hamil semakin optimal.
Tidak hanya itu, UPT Puskesmas Alai juga menggelar rapat koordinasi pengawasan SPPG yang melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, unsur kecamatan, pemerintah desa, serta para pemangku kepentingan terkait. Koordinasi lintas sektor tersebut diharapkan mampu memperkuat sinergi dalam mendukung keberhasilan program penurunan stunting.

Kepala UPT Puskesmas Alai, dr. Farid Moses, mengatakan keberhasilan program gizi tidak hanya bergantung pada tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif dari pemerintah desa, kader, keluarga, dan seluruh elemen masyarakat.
“Melalui monitoring, evaluasi PMT, dan koordinasi lintas sektor, kami ingin memastikan setiap intervensi gizi benar-benar tepat sasaran dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi balita maupun ibu hamil. Peran kader dan pemerintah desa sangat penting dalam mendampingi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengapresiasi komitmen UPT Puskesmas Alai dalam mengawal pelaksanaan program SPPG secara berkelanjutan.
Menurutnya, pengawasan yang dilakukan secara rutin menjadi kunci untuk memastikan seluruh program berjalan efektif dan mampu menekan angka stunting di Kabupaten Kepulauan Meranti.
“Program percepatan penurunan stunting harus dikerjakan secara kolaboratif. Monitoring, evaluasi, dan koordinasi lintas sektor merupakan langkah penting agar setiap intervensi yang dilakukan benar-benar memberikan hasil. Kami berharap seluruh puskesmas terus memperkuat pengawasan serta meningkatkan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya pemenuhan gizi sejak dini,” sebut Ade.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, UPT Puskesmas Alai menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya dalam upaya mewujudkan generasi Kepulauan Meranti yang sehat, cerdas, dan bebas stunting. (ADV)





