
TURUNNYA demam kerap dianggap sebagai tanda bahwa kondisi pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai membaik. Padahal, anggapan tersebut justru bisa menjadi jebakan yang harus diwaspadai keluarga pasien.
Pesan inilah yang disampaikan UPT Puskesmas Alai, Kabupaten Kepulauan Meranti, melalui edukasi kesehatan kepada masyarakat tentang pentingnya mengenali tanda bahaya DBD, khususnya ketika demam mulai mereda.
Dalam informasi edukasi yang disebarluaskan Puskesmas Alai, masyarakat diingatkan bahwa pada penyakit DBD, demam yang turun tidak selalu berarti pasien sudah aman. Justru, fase setelah demam mereda dapat menjadi masa yang membutuhkan perhatian lebih karena risiko komplikasi masih dapat terjadi.
Pesan sederhana tersebut menjadi penting, mengingat sebagian masyarakat masih menganggap turunnya suhu tubuh sebagai tanda bahwa pasien telah melewati masa berbahaya.
Padahal, kewaspadaan harus tetap dijaga. Orang tua maupun keluarga pasien perlu memperhatikan perubahan kondisi tubuh dan segera mengambil tindakan apabila muncul tanda-tanda bahaya.
Beberapa gejala yang patut diwaspadai antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, tubuh tampak sangat lemah atau gelisah, mimisan atau gusi berdarah, buang air besar berwarna hitam atau muntah darah, sulit bernapas, serta pasien tidak mau makan atau minum.
Jika salah satu tanda tersebut muncul, masyarakat diimbau untuk tidak menunggu kondisi semakin memburuk. Pasien harus segera mendapatkan pemeriksaan dan penanganan di fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, SH., MM, mengatakan kewaspadaan terhadap DBD harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari mengenali gejala hingga memastikan pasien mendapatkan pemantauan yang tepat selama masa sakit.
“Demam yang turun memang dapat menjadi tanda perubahan fase penyakit, tetapi tidak boleh langsung dianggap bahwa pasien sudah sepenuhnya aman. Karena itu, keluarga harus tetap memantau kondisi pasien dan mengenali tanda-tanda bahaya. Jika ada gejala yang mengkhawatirkan, segera bawa ke fasilitas pelayanan kesehatan,” ujar Ade.
Menurutnya, edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya pengendalian DBD. Pengetahuan yang baik dapat membantu keluarga mengambil keputusan lebih cepat ketika kondisi pasien mengalami perubahan.
Ade juga mengajak masyarakat untuk tidak hanya fokus pada penanganan ketika seseorang sudah terkena DBD. Pencegahan melalui pemberantasan sarang nyamuk juga harus menjadi kebiasaan bersama.
“Upaya pencegahan harus dimulai dari lingkungan rumah dan tempat tinggal. Masyarakat kami harapkan terus menjaga kebersihan lingkungan dan melakukan pemberantasan sarang nyamuk secara rutin. Jangan sampai menunggu ada anggota keluarga yang sakit baru kita bergerak,” katanya.

Dukungan terhadap langkah edukasi dan penguatan pencegahan DBD tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Kepulauan Meranti Komisi III yang membidangi kesehatan, Dr. M. Taufikurrahman, S.Pd., S.H., M.Si.
Ia mengapresiasi langkah jajaran kesehatan yang terus memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai bahaya DBD, termasuk pentingnya kewaspadaan ketika demam pasien mulai turun.
“Kami sangat mendukung upaya Dinas Kesehatan dan jajaran puskesmas dalam memberikan edukasi kepada masyarakat. Informasi seperti ini sangat penting karena menyangkut keselamatan pasien. Masyarakat harus memahami bahwa turunnya demam tidak selalu berarti penyakit sudah selesai, sehingga pengawasan terhadap kondisi pasien tetap harus dilakukan,” ujar Taufikurrahman.
Menurutnya, keberhasilan pengendalian DBD membutuhkan keterlibatan semua pihak. Pemerintah melalui fasilitas kesehatan memiliki peran dalam edukasi, deteksi dan penanganan, sementara masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Kami mendorong agar edukasi mengenai DBD terus dilakukan secara berkelanjutan, tidak hanya ketika kasus meningkat. Peran masyarakat juga sangat penting. Gerakan pemberantasan sarang nyamuk harus menjadi kebiasaan bersama karena pencegahan jauh lebih baik daripada menunggu masyarakat jatuh sakit,” tambahnya.
Melalui pesan “Jangan langsung tenang saat demam turun”, Puskesmas Alai mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap perubahan kondisi pasien DBD. Sebab, kewaspadaan keluarga dan kecepatan mendapatkan pertolongan medis dapat menjadi faktor penting dalam mencegah kondisi pasien semakin memburuk.
Pada akhirnya, melawan DBD bukan hanya soal mengatasi nyamuk, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat untuk mengenali penyakit sejak dini, memahami tanda-tanda bahaya, dan tidak terlambat mencari pertolongan. (ADV)





