O

Operasi SAR pencarian korban yang dinyatakan hilang dalam tragadi kapal pompong terseret arus dan tenggelam di Sungai Apit, Kabupaten Siak akhirnya dihentikan setelah tujuh hari. Pebri salah satu penumpang pompong dinyatakan hilang dan belum ditemukan. 

SIAK (serangkai.co) – Harapan menemukan korban terakhir tragedi tenggelamnya kapal pompong di perairan Tanjung Buton, Kabupaten Siak, belum terwujud. Setelah tujuh hari pencarian tanpa hasil, Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru resmi menghentikan operasi SAR terhadap musibah yang merenggut tiga nyawa tersebut.

Penghentian operasi dilakukan setelah seluruh tahapan pencarian sesuai prosedur Basarnas telah dilaksanakan. Meski demikian, satu korban bernama Febri (30), surveyor PT Sucofindo, masih dinyatakan hilang.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Pekanbaru, Budi Cahyadi, mengatakan keputusan penghentian operasi diambil berdasarkan hasil evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan pencarian di lapangan.

“Selama tujuh hari operasi, seluruh potensi SAR telah kami kerahkan secara maksimal. Namun hingga batas waktu operasi berakhir, satu korban belum berhasil ditemukan,” ujar Budi.

Selama sepekan, tim SAR gabungan menyisir perairan Selat Riau dengan mengerahkan berbagai armada, mulai dari Rescue Boat (RB) 218, Rigid Inflatable Boat (RIB), perahu karet, hingga pompong milik nelayan. Area pencarian diperluas mengikuti analisis arah arus dan kemungkinan hanyutnya korban.

Operasi tersebut melibatkan unsur Basarnas, TNI AL, TNI AD/Yon TP 851 BBC, Polairud, KSOP, Babinsa, tim penyelam, PT Sucofindo, PT Kharisma Inti Mitra Indonesia (KIMI), APDI, nelayan, serta masyarakat setempat.

Dari tujuh orang yang berada di atas kapal saat kejadian, tiga orang ditemukan meninggal dunia, yakni Ilham Syahputra Siregar (29), surveyor; Desmond Nataldo (44), shopper PT Kharisma Inti Mitra Indonesia; dan Aditya Waskita (27), staf Bea Cukai. Tiga korban lainnya berhasil diselamatkan.

Budi menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam operasi pencarian. Menurutnya, sinergi lintas instansi menjadi kekuatan utama dalam upaya penyelamatan dan pencarian korban.

“Terima kasih kepada seluruh personel Basarnas, TNI, Polri, KSOP, pemerintah daerah, perusahaan, relawan, nelayan, dan masyarakat yang telah bekerja tanpa mengenal lelah selama operasi berlangsung,” katanya.

Meski operasi resmi dihentikan, Basarnas menegaskan pemantauan tetap dilakukan. Jika di kemudian hari terdapat informasi baru atau korban ditemukan masyarakat, operasi pencarian dapat dibuka kembali sesuai ketentuan.

Diduga Terseret Arus Deras

Musibah nahas itu terjadi pada Senin (6/7/2026) sekitar pukul 23.30 WIB di perairan Selat Riau, kawasan Pelabuhan Tanjung Buton, Kecamatan Sungai Apit, Kabupaten Siak.

Saat itu, kapal pompong yang dinakhodai Aprizal baru selesai mengantarkan dokumen ke kapal TB MTS 29 dan kemudian bergerak menuju kapal kargo MV Himala untuk menjemput tim gabungan yang akan melaksanakan kegiatan draft survey.

Namun ketika melintas di depan haluan MV Himala, kapal diduga terseret arus laut yang kuat hingga keluar dari jalur aman. Buritan kapal kemudian menghantam rantai jangkar kapal kargo tersebut. Upaya nahkoda menambah tenaga mesin tak mampu melawan derasnya arus sehingga kapal kehilangan kendali dan akhirnya tenggelam.

Berakhirnya operasi SAR menjadi penutup fase pencarian, namun belum mengakhiri penantian keluarga korban terakhir yang hingga kini masih berharap Febri dapat segera ditemukan. (sr05)