
PEKANBARU — Tiga unit pesawat tempur Rafale generasi 4,5 resmi tiba di Indonesia dan kini berada di Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Jumat (23/1/2026). Kehadiran jet tempur buatan Prancis ini menjadi tahap awal dari pengadaan total 42 unit Rafale yang dipesan pemerintah Indonesia.
Pesawat tersebut akan dioperasikan oleh Skadron Udara 12 TNI Angkatan Udara Roesmin Nurjadin. Penempatan di Pekanbaru dinilai strategis karena berada di wilayah yang berdekatan dengan Selat Malaka dan Laut Natuna Utara, kawasan yang memiliki nilai strategis tinggi bagi pertahanan nasional.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan Brigjen TNI Rico Sirait menyatakan, ketiga unit Rafale tersebut telah diterima secara administratif dan teknis oleh TNI AU.
“Tiga unit pesawat tempur Rafale telah tiba di Indonesia dan saat ini berada di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru. Secara administratif dan teknis telah diserahterimakan dan dapat digunakan oleh TNI AU,” ujar Rico.
Ia menegaskan, kehadiran Rafale akan meningkatkan kemampuan TNI AU dalam menjaga kedaulatan udara nasional sekaligus mendukung berbagai misi, mulai dari pertahanan udara hingga operasi pengintaian.
Pengiriman Rafale ke Indonesia dilakukan secara bertahap hingga tahun 2029. Tiga pesawat yang tiba kali ini memiliki nomor ekor T-0301, T-0302, dan T-0303, dengan varian Rafale B yang menggunakan konfigurasi dua kursi (tandem).
Dari sisi spesifikasi, Rafale memiliki panjang 15,30 meter, tinggi 5,30 meter, dan rentang sayap 10,90 meter. Pesawat ini mampu melaju hingga kecepatan maksimum 1.911 km per jam, dengan ketinggian terbang maksimal 15,24 kilometer. Radius tempurnya mencapai 1.850 kilometer dan daya jelajah hingga 3.700 kilometer.
Rafale ditenagai dua mesin Safran M88-2 turbofan dengan daya dorong masing-masing 17.000 pound force (lbf) menggunakan afterburner. Pesawat ini memiliki berat kosong sekitar 10 ton dan mampu membawa beban maksimal hingga 24,5 ton, termasuk bahan bakar internal dan eksternal.
Nilai pengadaan Rafale diperkirakan mencapai Rp1,63 triliun per unit. Investasi ini disebut sebagai bagian dari upaya modernisasi alutsista sekaligus penguatan postur pertahanan udara Indonesia di tengah dinamika keamanan kawasan.
Dengan kedatangan Rafale, TNI AU diharapkan memiliki daya gentar yang lebih kuat serta kemampuan operasi udara yang semakin modern dan adaptif terhadap tantangan strategis ke depan.





