Ilustrasi Nabi Yusya’ bin Nun saat memimpin pasukannya untuk berperang. Foto hanya ilustrasi yang dibuat dengan bantuan akal imitasi (AI).

SERANGKAI.CO – Tahukah anda, ada seorang Nabi yang menahan matahari agar tidak terbenam? Ya, dia adalah Yusya bin Nun Alaihissalam. 

Setelah kepergian Nabi Musa, kepemimpinan Bani Israil jatuh kepada Yusya bin Nun. Yusya adalah seorang yang saleh, kuat, dan gagah perkasa. 

Ia melanjutkan perjuangan Musa dalam menegakkan tauhid dan memimpin Bani Israil menuju Tanah Suci.

Yusya bersama pasukannya berhadapan dengan kota Yerikho, sebuah kota yang dipenuhi dengan penduduk yang menolak ajaran Allah. 

Pertempuran berkecamuk hebat, dan kemenangan mulai terlihat di pihak Yusya. Namun, menjelang senja, ada kekhawatiran besar di hati Yusya. Jika matahari terbenam, hari Sabat akan dimulai, di mana orang-orang Yahudi tidak diperbolehkan berperang. 

Yusya tahu, menunda pertempuran hingga esok hari akan memberikan kesempatan kepada musuh untuk menyusun kekuatan dan menyerang balik.

Dalam kondisi yang sangat genting itu, Yusya menengadahkan tangannya ke langit. Ia memohon kepada Allah, “Ya Allah, janganlah Engkau biarkan matahari terbenam. Izinkanlah aku untuk menyelesaikan pertempuran ini agar aku dapat meraih kemenangan”.

Nabi Yusya’ bin Nun sedang berdoa dan meminta kepada Allah untuk menahan matahari. Foto hanya ilustrasi yang dibuat dengan bantuan akal imitasi (AI).

Atas izin dan kekuasaan Allah, sebuah keajaiban pun terjadi. Matahari yang seharusnya terbenam, seolah-olah berhenti di tempatnya. Cakrawala tetap terang benderang.

Kesempatan emas itu tidak disia-siakan oleh Yusya. Dengan semangat yang berkobar, ia memimpin pasukannya untuk menyerang musuh dengan kekuatan penuh. 

Hingga akhirnya, pada senja yang tak kunjung datang, Yusya bin Nun dan pasukannya berhasil memenangkan pertempuran dan menaklukkan kota Yerikho.

Setelah kemenangan mutlak diraih, barulah Allah mengizinkan matahari untuk melanjutkan perjalanannya, tenggelam di ufuk barat seperti biasanya. 

Peristiwa luar biasa ini menjadi bukti nyata kekuasaan Allah dan keutamaan Yusya bin Nun sebagai nabi yang diutus-Nya. 

Kisah ini berdasarkan sebuah hadis: Dari sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ الشَّمْسَ لَمْ تُحْبَسْ عَلَى بَشَرٍ إِلَّا لِيُوشَعَ لَيَالِيَ سَارَ إِلَى بَيْتِ الْمَقْدِسِ

“Sesungguhnya matahari tidaklah ditahan untuk seorang manusia, kecuali untuk Yusya’ [ada saat dia berjalan pada malam hari menuju Baitul Maqdis]” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad, 14: 65, no. 8315. Dinilai sahih oleh Ibnu Hajar dalam Al-Fath 6: 221). (sr01)