Gerakan Bersama Lawan DBD, Dinas Kesehatan Meranti Ajak Masyarakat Jadikan PSN sebagai Gaya Hidup.

MEMASUKI pertengahan tahun 2026, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) masih menjadi perhatian serius di Kabupaten Kepulauan Meranti. Namun di balik masih ditemukannya kasus infeksi dengue, terdapat kabar baik yang patut diapresiasi. Hingga pertengahan Juli 2026, tidak tercatat adanya kematian akibat DBD (Case Fatality Rate/CFR 0 persen) di Kabupaten Kepulauan Meranti.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa upaya pencegahan, deteksi dini, serta penanganan pasien yang dilakukan Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti bersama seluruh UPT Puskesmas berjalan secara optimal.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, mengatakan keberhasilan mempertahankan angka kematian nol bukan berarti masyarakat boleh lengah. Justru kondisi ini harus menjadi momentum memperkuat budaya hidup bersih dan sehat.

“Kasus dengue masih ditemukan di sejumlah wilayah. Oleh karena itu kami terus mengajak masyarakat agar menjadikan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) sebagai kebiasaan, bukan hanya dilakukan ketika ada kasus DBD di lingkungan sekitar,” ujar Widya.

Menurutnya, berdasarkan hasil pemantauan hingga 13 Juli 2026, tercatat 123 kasus infeksi dengue, yang terdiri dari 62 kasus DBD dan 61 kasus Demam Dengue (DD). Meski demikian, seluruh jajaran kesehatan terus bergerak cepat melakukan penyelidikan epidemiologi, edukasi masyarakat, pemantauan jentik, hingga fogging fokus apabila memenuhi kriteria.

Widya menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian DBD tidak ditentukan oleh fogging semata.

“Fogging hanya dilakukan pada kondisi tertentu sesuai hasil penyelidikan epidemiologi. Yang paling efektif adalah memutus siklus hidup nyamuk melalui gerakan 3M Plus, yaitu menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, memanfaatkan kembali barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk, serta melakukan langkah-langkah pencegahan lainnya,” jelasnya.

Ia juga mengingatkan masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar, terutama pada musim hujan atau ketika banyak genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, menilai keberhasilan mempertahankan CFR nol persen merupakan hasil kerja sama lintas sektor, mulai dari tenaga kesehatan, pemerintah desa, kader kesehatan hingga partisipasi masyarakat.

“Kami bersyukur sampai pertengahan Juli ini tidak ada kasus kematian akibat DBD. Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin cepat datang berobat ketika mengalami gejala, sementara petugas kesehatan juga sigap memberikan penanganan sesuai standar,” katanya.

Ade menambahkan, pihaknya terus menginstruksikan seluruh puskesmas untuk meningkatkan surveilans penyakit, memperkuat promosi kesehatan, serta melakukan edukasi secara berkelanjutan agar masyarakat semakin memahami pentingnya pencegahan DBD sejak dini.

“Kalau mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, jangan menunggu kondisi memburuk. Segera datang ke puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat agar dapat diperiksa dan ditangani sedini mungkin. Penanganan cepat menjadi kunci mencegah komplikasi,” ujarnya.

Selain pelayanan medis, Dinas Kesehatan juga terus menggencarkan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran masyarakat melalui penyuluhan, kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan, hingga pemberantasan sarang nyamuk secara berkala.

Dengan semangat kolaborasi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti optimistis angka kasus dengue dapat terus ditekan. Masyarakat pun diharapkan tidak hanya menjadi objek pelayanan kesehatan, tetapi juga menjadi pelaku utama dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan bebas dari sarang nyamuk.

“Mencegah selalu lebih baik daripada mengobati. Mari jadikan gerakan 3M Plus sebagai bagian dari budaya hidup sehari-hari demi melindungi keluarga dan lingkungan dari ancaman DBD,” tutup Ade Suhartian. (sr02)