Penampakan dari udara lahan seluas 10,15 hektare di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, yang sebelumnya terbakar dan kini dalam proses pendinginan, Senin (31/8/2026). (Dok. Humas Polda Riau for Serangkai.co)

PELALAWAN (serangkai.co) – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) seluas 967,69 hektare di Desa Rantau Baru, Kecamatan Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, telah memasuki hari kesembilan, Senin (31/8/2026).

Dari total area terdampak seluas 967,69 hektare, tim gabungan telah berhasil memadamkan sekitar 957,54 hektare. Petugas kemudian fokus melakukan pendinginan bara api pada lahan seluas 10,15 hektare yang masih mengeluarkan asap.

Kondisi tersebut menjadi perhatian Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai Mayjen Agus Hadi Waluyo yang melakukan patroli udara untuk memantau perkembangan penanganan Karhutla.

Dari udara, keduanya memantau lokasi terdampak serta pergerakan personel dan sarana pemadaman, termasuk memastikan penanganan tetap berjalan meski hujan mulai turun di sejumlah wilayah Riau.

“Hari ini saya kembali melihat langsung perkembangan penanganan Karhutla dari udara, khususnya di Pelalawan. Kita ingin memastikan upaya di lapangan berjalan maksimal, terutama di lokasi yang masih mengeluarkan asap atau memiliki potensi bara,” kata Herry.

Berdasarkan laporan Posko Penanganan Karhutla Polres Pelalawan hingga pukul 10.30 WIB, satu hotspot kategori medium masih terdeteksi. Herry mengingatkan personel tetap waspada karena bara dapat bertahan dan kembali memunculkan asap jika pendinginan tidak tuntas.

“Sekalipun api di permukaan sudah tidak terlihat, pekerjaan belum selesai. Yang harus kita pastikan adalah bara benar-benar padam. Karena itu, pendinginan harus dilakukan sampai tuntas dan titik yang masih mengeluarkan asap harus terus diawasi,” ujarnya.

Sebanyak 289 personel gabungan dari Polri, TNI, BPBD, Damkar, regu pemadam perusahaan, MPA, dan masyarakat dikerahkan untuk melakukan pemadaman dan pendinginan di wilayah tersebut.

Penanganan juga diperkuat satu helikopter water bombing, enam unit alat berat, puluhan mesin pompa pemadam dan mini striker, jaringan selang pemadam, serta drone surveillance.

“Kita pertahankan kekuatan di lapangan karena targetnya bukan sekadar memadamkan api. Kita harus memastikan tidak terjadi kebakaran ulang,” ujarnya.

“Tim darat bekerja melakukan pemadaman dan pendinginan, sementara dari udara kita lakukan pemantauan serta dukungan water bombing pada lokasi yang membutuhkan,” imbuhnya.

Herry mengapresiasi seluruh personel dan unsur gabungan yang masih berjibaku menangani Karhutla. Menurutnya, penanganan kebakaran membutuhkan kolaborasi TNI-Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, dunia usaha, MPA, dan masyarakat.

Ia menegaskan dirinya bersama Pangdam XIX/Tuanku Tambusai berkomitmen mengawal penanganan Karhutla di Riau hingga seluruh titik yang masih terbakar maupun mengeluarkan asap benar-benar tertangani.

“Sejak awal saya dan Pak Pangdam sudah berkomitmen, penanganan Karhutla ini kita kerjakan bersama-sama sampai tuntas. TNI-Polri akan terus berada di lapangan bersama seluruh stakeholder, saling menguatkan dan memastikan setiap titik yang masih membutuhkan penanganan tidak terabaikan,” tegas Herry.

“Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh personel yang sampai hari ini masih berada di lapangan. Tetap jaga keselamatan, jaga kesehatan, dan tuntaskan pekerjaan ini bersama-sama,” katanya. (sr05)