Peserta FGD foto bersama usai melakukan diskusi dan pengecekan sirus sejarah ke lapangan, Rabu (8/4/2026). (foto istimewa)

TANAH DATAR (serangkai.co) — Suasana siang hari di Nagari Pasie Laweh terasa berbeda, bukan sekadar pertemuan biasa melainkan ruang temu antara sejarah, kegelisahan, dan harapan. Dalam forum Focus Group Discussion (FGD), Rabu 08/04/26 yang membahas konservasi manuskrip salah seorang ulama Minangkabau abad ke-17.

Turut hadir Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Barat Drs Nurmatias, Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Mahmud Yunus Batusangkar dan juga sebagai peneliti Filology Prof Akhyar Hanif, MAg, Tenaga Ahli Bupati (TAP4D) Tanah Datar Bidang Kebudayaan Dr Inoki Ulma Tiara, SSos, MPd, Bidang Kebudayaan dari Dinas Pendidikan Kebudayaan Tanah Datar , Tokoh Budaya Tanah Datar Irwan Malin Basa, Ketua LKAAM Kecamatan Pariangan dan juga Ketua KAN Nagari Tuo Pariangan S Dt Kayo, Pemerintah Nagari, Pengurus MSI Sumatera Barat, Ketua Yusri Filologys Corner Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah UIN Mahmud Yunus Batusangkar, serta para penggiat sejarah dan filologi.

Salah satu sosok yang mencuri perhatian dalam kegiatan ini adalah Ketua Tim Konservasi Riki Rikarno atau yang lebih dikenal dengan panggilan Qnoy Rajo Bendang.

Saat membuka diskusi, ia memantik dengan gaya lugas namun penuh tekanan intelektual. Dengan pertanyaan yang bukan retorika ini menjadi titik awal gelombang diskusi hangat yang mengalir deras dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Manuskrip yang terancam dan Identitas yang dipertanyakan dalam forum tersebut. Akhirnya Prof Akhyar Hanif, MAg, membuka cakrawala dengan prolog risetnya.

Ia menegaskan bahwa Syekh Hafiz Pasie Laweh bukan sekadar nama dalam cerita lisan, melainkan bagian dari jaringan ulama besar abad ke-17 yang sezaman dengan Syekh Burhanuddin Ulakan.

Namun, justru di sinilah kegelisahan mulai muncul, beberapa peserta mempertanyakan keabsahan Identitas dalam Manuskrip tersebut.
Muncul nya nama Syekh Ha Fa Dhal yang ditemukan dalam teks memicu diskusi panjang, apakah benar itu merujuk pada Syekh Hafiz Pasie Laweh?.

Pertanyaan itu tidak berhenti begitu saja, ini berkembang menjadi isu yang lebih dalam.
Dan apakah kita benar-benar mengenal sejarah kita sendiri?.

Ketika akademisi, pemerintah, penggiat sejarah dan Filologi serta masyarakat berhadapan, diskusi semakin tajam saat suara-suara kritis bermunculan.

Salah seorang peserta menyoroti ironi bahwa Tanah Datar sering disebut sebagai pusat kebudayaan Minangkabau, tetapi belum mampu menunjukkan langkah konkret terhadap pelestarian budaya yang masih tersimpan.

Sementara itu, upaya individu seperti pengumpulan ratusan manuskrip justru berjalan tanpa sistem yang kuat.

Di sisi lain, muncul gagasan tentang pentingnya digitalisasi Manuskrip, pendirian pusat informasi kebudayaan hingga pengembangan wisata religi berbasis situs sejarah.

Namun Ketua Tim Konservasi, Qnoy Rajo Bendang mendorong suasana lebih jauh. Ia tidak membiarkan diskusi berhenti pada wacana saja. “Kita tidak kekurangan cerita dan sejarah, tapi kita kekurangan keberanian untuk mengelola cerita dan sejarah itu. Antara dari diskusi ke aksi harapan yang mulai terbentuk,” ungkap Qnoy.

Ahli waris Manuskrip, Febriandi menyampaikan harapannya agar peninggalan ini tidak hanya disimpan, tetapi dihidupkan, dibuka untuk peneliti, dikenalkan ke generasi muda, dan dijaga bersama.

Sementara itu, peserta lain mulai melihat peluang manuskrip bukan hanya warisan masa lalu, tetapi juga modal masa depan baik untuk pendidikan, ekonomi kreatif, maupun pariwisata budaya.

Menutup Dengan Langkah Nyata

FGD tidak berakhir di ruang diskusi, para peserta kemudian bergerak bersama menuju situs makam kuno. Sebuah simbol bahwa pembahasan hari itu tidak hanya berhenti pada kata-kata saja.

Langkah kaki mereka di tanah Pasie Laweh seolah menjadi jawaban awal dari pertanyaan besar yang dilemparkan Qnoy. “Apakah kita siap menjaga warisan ini, atau membiarkannya hilang pelan-pelan” ujarnya.

FGD ini bukan sekadar Forum Ilmiah namun ini adalah cermin yang memperlihatkan bahwa antara kebanggaan budaya dan kerja nyata, masih ada jarak yang harus dijembatani. Dan mungkin, seperti yang ditunjukkan Qnoy Rajo Bendang hari itu.

“Perubahan selalu dimulai dari satu hal sederhana yaitunya keberanian untuk bertanya,” sebut Qnoy. ***