
SERANGKAI.CO – Setelah diutusnya Nabi Musa ‘alaihissalam, Allah menetapkan syariat khusus bagi Bani Israil: Hari Sabtu (Sabat) dijadikan hari ibadah. Pada hari itu mereka dilarang bekerja dan menangkap ikan. Larangan itu jelas. Perintah itu tegas.
Namun di sebuah kota pesisir bernama Aylah yang terletak di tepi Laut Merah, dekat wilayah Yordania saat ini, Allah memberi mereka ujian.
Ujian itu datang dengan cara yang tak biasa.
Pada hari Sabat, ketika mereka dilarang menangkap ikan, justru ikan-ikan bermunculan dengan sangat banyak. Mereka berenang hingga ke tepian, melompat-lompat di permukaan air, seakan mudah ditangkap. Tetapi pada hari-hari selain Sabtu, laut tampak sepi.
Godaan itu menguji iman mereka.
Sebagian dari mereka pun mencari siasat. Pada hari Jumat, mereka memasang perangkap dan jaring. Pada hari Sabtu, mereka membiarkannya terpasang tanpa disentuh. Lalu pada hari Minggu, mereka datang mengambil hasil tangkapan.
Secara lahiriah, mereka merasa tidak melanggar. Mereka tidak “menangkap” pada hari Sabtu. Namun hakikatnya, mereka sedang mempermainkan hukum Allah.

Allah berfirman dalam Surah ayat 166:
“Maka ketika mereka menyombongkan diri terhadap larangan itu, Kami katakan kepada mereka: Jadilah kalian kera yang hina”.
Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menjelaskan bahwa perubahan itu bukan sekadar kiasan sifat. Mereka benar-benar diubah secara fisik menjadi kera dan dalam riwayat lain disebutkan pula sebagian menjadi babi.
Mereka yang secara langsung melanggar, berubah menjadi kera. Menurut sebagian pendapat ulama yang dikutip Ibnu Katsir, ada pula yang berubah menjadi babi, yakni mereka yang tidak ikut melanggar, tetapi diam tanpa mencegah kemungkaran.
Azab itu tidak berlangsung lama. Mereka hidup hanya sekitar tiga hari. Tidak makan. Tidak minum. Hingga akhirnya mati.
Sebuah hukuman yang nyata. Sebuah peringatan yang keras.
Dari kisah Bani Israil ini, kita belajar satu hal penting: tidak ada tipu daya yang mampu menipu Allah. Siasat yang tampak cerdas di mata manusia, bisa menjadi bukti kesombongan di hadapan-Nya.
Kisah ini bukan sekadar sejarah. Ia diabadikan agar menjadi cermin bagi setiap generasi. (sr01)





