Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih. (Foto ist)

MERANTI — Lonjakan tajam kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Kepulauan Meranti sepanjang 2025 menjadi peringatan serius bagi kesehatan masyarakat. Dalam satu tahun, jumlah kasus meningkat hampir lima kali lipat, bahkan menelan dua korban jiwa.

Data Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti mencatat, sepanjang 2024 hanya terdapat 31 kasus DBD. Namun pada 2025, angka tersebut melonjak drastis menjadi 175 kasus, dengan dua pasien dinyatakan meninggal dunia akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti itu.

Kecamatan Tebingtinggi menjadi wilayah dengan kasus tertinggi. Puskesmas Selatpanjang menangani 59 kasus, disusul Puskesmas Alah Air dengan 75 kasus. Sementara puluhan kasus lainnya tersebar di sejumlah puskesmas di kecamatan lain.

Ironisnya, saat tahun 2026 baru berjalan beberapa pekan, ancaman DBD belum mereda. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, mengungkapkan bahwa hingga Kamis (22/1/2026), sudah terdeteksi empat kasus baru.

“Walaupun tahun 2026 masih awal, kami sudah mencatat empat kasus DBD. Ini menjadi perhatian serius dan menandakan potensi peningkatan jika pencegahan tidak diperkuat,” ujar Widya.

Ia menegaskan, tingginya kasus DBD erat kaitannya dengan kondisi lingkungan dan pola hidup masyarakat. Oleh karena itu, Dinas Kesehatan terus menggencarkan upaya pencegahan melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras, menutup, dan mendaur ulang tempat penampungan air, serta langkah tambahan lainnya untuk memutus siklus perkembangbiakan nyamuk.

Selain itu, masyarakat juga diminta aktif menaburkan bubuk abate pada tempat-tempat penampungan air. Abate tersebut tersedia gratis di seluruh puskesmas di Kepulauan Meranti.

“Abate bisa diambil langsung di puskesmas. Ini upaya sederhana, tapi sangat efektif mencegah jentik nyamuk berkembang,” tambahnya.

Dinas Kesehatan berharap lonjakan tajam kasus DBD pada 2025 menjadi alarm bersama, agar masyarakat lebih peduli menjaga kebersihan lingkungan. Tanpa keterlibatan aktif warga, ancaman DBD dikhawatirkan akan terus berulang dan memakan korban di tahun-tahun mendatang. (sr02)