
BATAM (serangkai.co) – Transformasi Terminal Peti Kemas (TPK) Batu Ampar mulai memberikan dampak nyata bagi dunia usaha. Selain memangkas waktu pelayanan kapal, modernisasi terminal juga berhasil menurunkan biaya logistik hingga 50 persen untuk sejumlah rute internasional, sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai pusat logistik dan perdagangan di kawasan Asia Tenggara.
Pengembangan TPK Batu Ampar dilakukan oleh PT Batam Terminal Petikemas (BTP) sebagai mitra kerja sama BP Batam bersama PT Batu Ampar Container Terminal (BACT). Melalui investasi sekitar USD 85 juta, berbagai pembenahan dilakukan mulai dari modernisasi alat bongkar muat, perluasan lapangan penumpukan peti kemas, peningkatan kapasitas terminal, hingga digitalisasi layanan kepelabuhanan.
Hasilnya mulai terlihat dari meningkatnya efisiensi operasional pelabuhan. Produktivitas bongkar muat peti kemas (Container Handling Productivity) meningkat dari 18 menjadi 24 box crane per hour (BCH), sedangkan produktivitas penanganan kapal (Ship Handling Productivity) melonjak lebih dari tiga kali lipat, dari 12 menjadi 40 box ship per hour (BSH).
Peningkatan tersebut berdampak langsung pada waktu pelayanan kapal. Rata-rata waktu putar kapal (Vessel Turnaround Time) kini hanya sekitar tujuh jam dari sebelumnya 20 jam atau turun hingga 65 persen. Sementara waktu tunggu kapal (Waiting Time) juga berkurang dari 1,4 jam menjadi hanya 0,6 jam.
Efisiensi itu turut mendorong peningkatan aktivitas bongkar muat. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, arus peti kemas di TPK Batu Ampar mencapai 221.183 TEUs. Dari jumlah tersebut, volume ekspor mencapai 71.930 TEUs atau sekitar 32,5 persen, mencerminkan meningkatnya aktivitas industri dan perdagangan di Batam.
Modernisasi terminal juga berdampak pada konektivitas pelayaran internasional. Frekuensi layanan kapal direct call berkapasitas 1.200–2.000 TEUs meningkat dari enam hingga tujuh kali menjadi 10–13 kali setiap bulan. Selain itu, terminal juga rutin melayani kapal berkapasitas 1.000–1.900 TEUs sebanyak dua kali setiap bulan.
Dengan semakin banyaknya layanan direct call, biaya pengiriman logistik dari Batam ke Shanghai kini dapat ditekan menjadi sekitar USD650–800 per kontainer ukuran 20 kaki. Sebelumnya, pengiriman melalui skema feeder dan transshipment di Singapura memerlukan biaya sekitar USD950–1.100 per kontainer.
Skema tersebut memberikan potensi penghematan hingga USD300 per kontainer atau sekitar 30–50 persen, sekaligus memangkas waktu pengiriman menjadi sekitar delapan hari. Dari sisi perusahaan pelayaran, efisiensi waktu sandar hingga 17 jam per kapal juga mampu menghemat biaya operasional sekitar USD3.800 setiap kunjungan.
Anggota/Deputi Bidang Pengusahaan BP Batam, Denny Tondano, mengatakan transformasi TPK Batu Ampar merupakan bagian dari strategi besar BP Batam dalam membangun sistem logistik yang modern dan berdaya saing.
“Sejalan dengan arahan Kepala BP Batam, Amsakar Achmad, dan Wakil Kepala BP Batam, Li Claudia Chandra, pengembangan TPK Batu Ampar akan terus diakselerasi sebagai komitmen mewujudkan sistem logistik yang modern dan efisien sekaligus meningkatkan daya saing Batam sebagai kawasan perdagangan bebas, industri, dan tujuan investasi utama,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Selain pembenahan infrastruktur, BP Batam juga tengah menyiapkan penerapan sistem Direct Billing yang memungkinkan pembayaran layanan terminal dilakukan secara langsung dan real time. Sistem ini diharapkan mampu memangkas birokrasi, meningkatkan transparansi, serta mempercepat proses administrasi sehingga waktu inap barang (dwelling time) semakin singkat.
Direktur Badan Pengelolaan dan Pengusahaan Kepelabuhanan BP Batam, Benny Syahroni, menilai capaian tersebut menunjukkan pengembangan TPK Batu Ampar berjalan sesuai rencana.
“Ke depan, BP Batam berkomitmen memperbesar kapasitas terminal agar mampu mengakomodasi pertumbuhan arus barang global sekaligus memperkuat posisi Batam sebagai hub logistik regional,” katanya.
Sementara itu, Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Capt. Basori Alwi, mengatakan pihaknya bersama BACT akan melanjutkan berbagai program strategis, mulai dari perluasan terminal, pengerukan alur pelayaran untuk kapal berukuran besar, hingga integrasi sistem digital kepelabuhanan guna mendukung pertumbuhan investasi dan perekonomian nasional. (RUD/sr03)





