
KEPULAN asap fogging kerap menjadi tanda bahwa masyarakat sedang menghadapi ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Namun, di balik pelaksanaan fogging, terdapat proses pemantauan dan analisis yang menjadi dasar sebelum tindakan tersebut dilakukan.
Di Kabupaten Kepulauan Meranti, pelaksanaan fogging tidak dilakukan secara sembarangan maupun hanya berdasarkan permintaan masyarakat. Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti memastikan tindakan pengendalian tersebut dilakukan berdasarkan rekomendasi hasil Penyelidikan Epidemiologi (PE) terhadap kasus yang ditemukan di tengah masyarakat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Widya Nengsih, S.KM, menjelaskan bahwa hasil PE menjadi salah satu dasar penting dalam menentukan perlu atau tidaknya dilakukan fogging di suatu wilayah.
Menurutnya, petugas akan melihat sejumlah indikator di lapangan, di antaranya jumlah kasus atau penderita yang mengalami demam serta temuan jentik nyamuk di lingkungan sekitar lokasi kasus.
“Fogging itu berdasarkan rekomendasi hasil PE atau Penyelidikan Epidemiologi kasus. Indikatornya antara lain jumlah kasus atau penderita demam dan temuan jentik. Jadi, pelaksanaannya memang berdasarkan hasil pemeriksaan dan kondisi di lapangan,” ujar Widya.
Pendekatan tersebut dilakukan agar fogging dapat menjadi bagian dari strategi pengendalian DBD yang tepat sasaran. Sebab, fogging hanya berfungsi untuk membunuh nyamuk dewasa, sementara telur dan jentik nyamuk yang berada di tempat penampungan air maupun lingkungan lainnya tetap harus diberantas.
Karena itu, menurut Widya, masyarakat memiliki peran yang sangat besar dalam mencegah munculnya kasus DBD. Pemberantasan sarang nyamuk harus dilakukan secara rutin, terutama dengan memastikan tidak ada tempat yang dapat menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk Aedes aegypti.
“Masyarakat tetap menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan DBD. Jangan hanya mengandalkan fogging, karena yang paling utama adalah memutus siklus perkembangbiakan nyamuk dengan memberantas jentik dan menjaga kebersihan lingkungan,” jelasnya.
Sepanjang tahun 2026, berdasarkan data pelaksanaan fogging DBD, Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti melalui jajaran UPT Puskesmas telah melakukan tujuh kali fogging di sejumlah wilayah yang memenuhi indikator berdasarkan hasil PE.
Pelaksanaan tersebut mencakup wilayah kerja Puskesmas Selatpanjang sebanyak dua kali, Puskesmas Alah Air sebanyak dua kali, serta Puskesmas Sungai Tohor sebanyak tiga kali. Fogging dilakukan di sejumlah lokasi, di antaranya Selatpanjang Kota, Banglas Barat, Teluk Buntal dan Sendanu.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengatakan penanganan DBD membutuhkan kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Menurutnya, langkah pengendalian tidak cukup hanya dilakukan ketika kasus sudah muncul, tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan di tingkat keluarga dan lingkungan.
“Upaya pengendalian DBD tidak bisa hanya mengandalkan fogging. Masyarakat harus ikut berperan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk. Jika lingkungan kita bersih dan tempat berkembang biak nyamuk bisa dikendalikan, maka risiko penularan DBD juga dapat ditekan,” kata Ade.
Ia menambahkan, Dinas Kesehatan bersama jajaran puskesmas akan terus melakukan pemantauan terhadap kasus dan kondisi lingkungan masyarakat. Jika hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan adanya indikator yang memerlukan tindakan pengendalian, maka langkah penanganan akan dilakukan sesuai rekomendasi petugas kesehatan.
“Kami terus mendorong puskesmas untuk melakukan pemantauan dan penanganan sesuai kondisi di lapangan. Kami juga mengajak masyarakat segera melapor apabila menemukan gejala yang mengarah pada DBD, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan dan penyelidikan epidemiologi lebih lanjut,” ungkapnya.
Melalui pola pengendalian yang berbasis data dan hasil PE, upaya pencegahan DBD di Kepulauan Meranti diharapkan dapat berjalan lebih efektif. Namun, keberhasilan upaya tersebut tetap membutuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan secara konsisten.
Sebab, melawan DBD bukan hanya tentang mengusir nyamuk dengan asap fogging, tetapi juga tentang memutus tempat nyamuk berkembang biak sejak dari lingkungan rumah sendiri. (ADV)
Related posts:
- Penyuluhan PHBS di Sekolah Terus Digencarkan, Dinas Kesehatan Meranti Perkuat Edukasi Kesehatan
- Skrining Kesehatan di Sekolah, Investasi Nyata Membangun Generasi Sehat Meranti
- Home Visit Balita Stunting, Puskesmas Alai Perkuat Edukasi Orang Tua dan Pendampingan Keluarga
- Waspada Demam Tifoid (Tifus), Kenali Penyebab Cegah Sejak Dini, dan Obati dengan Tepat





