
MALI – Sepak bola memang sering melahirkan harapan berlebihan. Tapi di Mali, harapan itu melompat jauh melewati taktik, latihan, dan akal sehat.
Dilansir AFP, seorang dukun bernama Karamogo Sinayoko ditangkap polisi setelah menjanjikan sesuatu yang bahkan federasi sepak bola pun tak berani pasang target: Timnas Mali juara Piala Afrika, dan secara implisit membuka jalan menuju panggung besar bernama Piala Dunia.
Janji itu tidak disampaikan gratis. Dengan dalih ritual dan “energi spiritual”, Karamogo mengumpulkan sumbangan dari masyarakat. Totalnya mencapai sekitar Rp657 juta. Angka yang, dalam konteks Mali, jelas bukan uang kecil, bahkan bisa membiayai pemusatan latihan tim usia muda, kalau mau sedikit rasional.
Namun rasionalitas memang bukan tema utama cerita ini. Awalnya, skenario Karamogo nyaris terlihat bekerja. Mali tampil cukup meyakinkan di fase grup Piala Afrika. Mereka menahan tuan rumah Maroko, lalu melangkah ke perempat final setelah menyingkirkan Tunisia lewat adu penalti. Di titik ini, sebagian pendukung mulai percaya, mungkin jalur langit memang sedang terbuka.
Sayangnya, sepak bola bukan kitab mantra. Di perempat final, Mali tumbang 0–1 dari Senegal. Tidak ada keajaiban di menit akhir. Tidak ada intervensi gaib dari tribun. Yang tersisa hanya skor akhir dan kekecewaan.
Dan seperti banyak kisah janji besar yang gagal, kemarahan pun mencari alamat. Karamogo menjadi sasaran emosi publik. Bukan karena Mali kalah semata, tapi karena uang, harapan, dan mimpi yang terlanjur dibungkus keyakinan.
Polisi akhirnya turun tangan. Bukan untuk mengamankan jimat, melainkan menahan sang dukun demi mencegah amuk massa. Praktik perdukunan sendiri dilarang di Mali, sehingga kasus ini tak hanya soal sepak bola, tetapi juga pelanggaran hukum.





