
MERANTI (serangkai.co) — Kesal karena sering mati lampu, puluhan warga di Desa Tanjung Samak Kecamatan Rangsang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, melakukan aksi unjuk rasa saat manajemen PLN ULP Selatpanjang melakukan inspeksi ke Unit PLN Tanjung Samak, Senin (24/8/2026). Mereka meminta pihak manajemen PLN bisa segera menyelesaikan persoalan krisis listrik di wilayah terluar di Indonesia tersebut.
Salah satu peserta aksi mengaku aksi demontrasi atau unjuk rasa dilakukan secara spontan karena kesal selalu terjadi pemadaman listrik diwilayah Ibukota Kecamatan Rangsang itu. Bahkan pemadaman bisa lebih dari sekali dan pada jam-jam krusial.
“Akhir-akhir ini sering terjadi pemadaman listrik. Sangat sering terjadi saat magrib atau sore menjelang malam. Hal itu membuat kami merasa kesal. HIngga kini belum ada solusi hingga kini,” ungkap Bakri salah satu warga.
Menurutnya, PLN seolah tidak serius dalam menyelesaikan masalah. Bahkan terkesan abai dengan situasi tersebut.
Masyarakat berkumpul yang tanpa dikoordinir tersebut dilaksanakan siang hari. Setelah menyampaikan sejumlah protes terhadap PLN, perwakilan masyarakat diterima dan dilakukan mediasi.
Aksi masyarakat ini dikawal pihak kepolisian, Satpol PP dan sejumlah aparatur di kecamatan dan desa setempat. Sementara pihak PLN dihadiri oleh Kepala PLN ULP Selatpanjang, Roni Saputra.
Dalam mediasi antara warga dan pihak PLN disepakati sejumlah item kesepakatan. Salah satu langkah yang akan dilakukan yakni koordinasi teknis terkait pemadaman sementara pada dua unit pelanggan captive power (kilang sagu).
Pemadaman sementara tersebut ditujukan untuk mendukung stabilisasi dan optimalisasi beban jaringan distribusi. Selain itu, ULP Selatpanjang akan menggelar rapat koordinasi teknis bersama tim pembangkitan pada Kamis, 28 Agustus 2026. Pertemuan tersebut akan membahas strategi evaluasi sekaligus penguatan sistem kelistrikan di Tanjung Samak.
Langkah lainnya adalah mendorong percepatan penambahan unit mesin pembangkit melalui koordinasi intensif dan berkelanjutan bersama tim pembangkitan.
Sementara, solusi jangka pendek, akan dilakukan perbaikan mesin diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Sementara untuk jangka panjang, penambahan mesin sebagai cadangan apabila terjadi gangguan diperkirakan membutuhkan waktu kontrak hingga dua bulan. Adapun waktu pengoperasian mesin akan diinformasikan kemudian.
Tak hanya dari sisi pembangkitan, penguatan keandalan jaringan juga menjadi perhatian. Pembenahan, pemeliharaan preventif, serta perbaikan menyeluruh pada jaringan instalasi sisi penyulang (feeder) akan dilakukan untuk meminimalisasi potensi gangguan dan meningkatkan mutu pasokan listrik.
Dalam dokumen kesepakatan itu dibuat dan ditandatangani oleh Manager ULP Selatpanjang, Roni Saputra, serta diketahui Camat Rangsang, Rudi Chayadi. Selain itu, sejumlah perwakilan Pemuda Pancasila Kecamatan Rangsang dan sejumlah perwakilan warga sekitar turut membubuhkan tanda tangan sebagai pihak yang mengetahui pernyataan tersebut.
Sementara itu, Kepala PLN ULP Selatpanjang, Roni Saputra yang dikonfirmasi secara singkat menyebutkan akan berupaya menyelesaikan persoalan di Tanjung Samak. Melalui seluler ia menyebutkan belum bisa memberikan keterangan lebih jauh karena sedang alam perjalanan pulang dari Tanjung Samak ke Selatpanjang.
Saat dikonfirmasi ulang, Senin malam (24/8/2026), Roni belum menjawab wartawan. (sr03)





