PERTUSIS atau yang lebih dikenal sebagai batuk 100 hari masih menjadi penyakit yang perlu diwaspadai masyarakat. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Bordetella pertussis ini sangat mudah menular melalui percikan ludah saat penderita batuk, bersin, maupun berbicara. Jika tidak segera ditangani, pertusis dapat menyebabkan komplikasi serius, terutama pada bayi dan balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Meranti, Ade Suhartian, mengimbau masyarakat agar mengenali gejala pertusis sejak dini dan segera membawa anak ke fasilitas pelayanan kesehatan apabila mengalami batuk berkepanjangan.

“Pertusis bukan sekadar batuk biasa. Penyakit ini dapat berlangsung hingga berbulan-bulan dan sangat berbahaya bagi bayi serta anak-anak. Karena itu, orang tua harus segera memeriksakan anak apabila mengalami batuk hebat yang berlangsung terus-menerus, terlebih jika disertai kesulitan bernapas atau muntah setelah batuk,” ujar Ade Suhartian.

Ia menjelaskan, gejala khas pertusis berupa batuk keras yang terjadi berulang kali, disertai tarikan napas panjang hingga menimbulkan suara melengking (whooping cough). Pada beberapa kasus, penderita juga mengalami muntah setelah batuk dan tampak kelelahan akibat serangan batuk yang terus berulang.

Menurut Ade, apabila tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, pertusis dapat memicu berbagai komplikasi seperti sesak napas, perdarahan pada mata akibat batuk yang terlalu kuat, hingga malnutrisi karena penderita kesulitan makan.

“Deteksi dini dan pengobatan yang cepat menjadi kunci agar komplikasi dapat dicegah. Masyarakat jangan menunggu hingga kondisi anak semakin berat,” tegasnya.

 

Sementara itu, Kepala Bidang Promosi Kesehatan Dinas Kesehatan Kepulauan Meranti, Nurmadia Damar, mengatakan bahwa pencegahan pertusis paling efektif dilakukan melalui imunisasi lengkap sesuai jadwal.

“Imunisasi DPT-HB-Hib merupakan perlindungan terbaik bagi bayi dan balita dari penyakit pertusis. Karena itu kami mengajak seluruh orang tua memastikan anak memperoleh imunisasi lengkap sesuai usia,” ujar Nurmadia Damar.

Selain imunisasi, ia juga mengingatkan masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti menggunakan masker saat sakit, mencuci tangan menggunakan sabun, menjaga etika batuk, serta menghindari kontak dekat dengan bayi apabila sedang mengalami batuk atau flu.

Nurmadia menambahkan, apabila ditemukan anak dengan gejala yang mengarah pada pertusis, masyarakat diharapkan segera menghubungi petugas kesehatan atau puskesmas terdekat. Petugas akan melakukan pemeriksaan, pengobatan, serta pengambilan sampel usap tenggorokan (swab) bila diperlukan sebagai bagian dari surveilans penyakit.

“Dengan imunisasi yang lengkap, kewaspadaan orang tua, serta dukungan masyarakat dalam melaporkan kasus yang dicurigai, kita dapat mencegah penyebaran pertusis dan melindungi anak-anak Kepulauan Meranti dari penyakit yang sebenarnya dapat dicegah,” tutup Nurmadia. (ADV)