
SERANGKAI.CO – Mungkin tidak banyak yang tahu sumur zamzam yang berada di Kota Suci Mekah pernah dikubur dan menghilang. Setelah ratusan tahun sumur Nabi Ismail Alaihissalam itu ditemukan kembali oleh Syaibah atau Abdul Muthallib. Lelaki yang kelak menjadi penguasa Kota Mekah dan kakek baginda Rasul Muhammad salallahu alaihi wassalam.
Al Imam Ibnu Katsir dalam Kitab al bidayah wa nihayah menceritakan, setelah Allah mengeluarkan mata air dari bekas hentakan kaki Nabi Ismail alaihissalam, disaat bersamaan lewatlah satu suku bernama Bani Jurhum dari daerah Yaman. Mereka terpaksa keluar karena bendungan air yang menopang hidup mereka pecah.
Saat melewati sekitar lembah Mekah dalam perjalan menuju Syam (Syiria, Iraq), mereka melihat kawanan burung terbang berputar. Sebagaimana biasanya hal itu merupakan tanda adanya sumber air. Utusan pun dikirim untuk memeriksa. Diketahuilah bahwa sumber air itu berasal dari sumur Zam-zam milik Ismail dan ibundanya Hajar.
Singkat cerita mereka pun meminta izin untuk tinggal bermukim di sekitar sumur zam-zam dan berjanji akan menjaga dan menemani Hajar beserta putranya sebagai kompensasi menggunakan air sumur tersebut.
Ismail sang pemilik zam-zam beranjak dewasa dan menikah dengan putri dari pemimpin Suku Jurhum. Setelah diangkat menjadi Rasul, seluruh Mekah bertauhid kepada Allah hingga Nabi Ismail wafat.
Waktu terus berganti. Kota Mekah semakin ramai. Persediaan air zam-zam sepanjang tahun tanpa pernah kering ternyata jadi incaran suku-suku lainnya. Salah satunya Bani Khuza’ah yang juga berasal dari Yaman. Namun merupakan kaum penyembah berhala dan berwatak ganas.
Saat Kota Mekah semakin genting dan Bani Jurhum tidak dapat menahan lagi serangan dari Suku Khuza’ah, maka sumur zam-zam pun dikubur agar tidak dapat direbut oleh musuh. Sejak saat itu sumur Nabi Ismail ini mengilang dan Kota Mekah harus memasok air dari luar untuk keperluan sehari-hari.
Setelah ratusan tahun sumur Nabi Ismail Alaihissalam itu ditemukan kembali oleh Syaibah atau Abdul Muthallib. Lelaki yang kelak menjadi penguasa Kota Mekah dan kakek baginda Rasul Muhammad salallahu alaihi wassalam.
*Penemuan Kembali Sumur Zam-zam
Kurang lebih lima ratus tahun setelahnya, seorang lelaki bernama Syaibah dari keturunan Quraisy mendapatkan sebuah mimpi untuk menggali zam-zam kembali. Lelaki itu bergelar Abdul Muthallib, kakek baginda Nabi Muhammad Salallahu alaihiwassalam.

Suatu malam dia bermimpi ada sebuah suara yang memerintahkannya untuk menggali zam-zam. Saat dia bertanya di mana, suara itu menjawab;
“Dia tidak akan kering selama-lamanya dan tidak akan berkurang, dia akan memberi minum kepada para jamaah haji tetamu Allah Yang Maha Agung, dia berada diantara perut dan darah, di tempat patukan gagak hitam yang ada bulu putih dan di tempat rumah semut”.
Keesokan harinya, bersama putranya yang bernama Harits, Abdul Muthalib mulai mencari tempat sesuai petunjuk mimpinya. Saat itu masyarakat Mekah sangat akrab dengan cerita sumur zam-zam milik Nabi Ismail, tapi mereka tidak tahu di mana tempat pasti terkuburnya.
Mereka mulai memeriksa sekitar Kakbah. Tidak lama kemudian datanglah rombongan orang arab menyembelh seekor lembu di depan sebuah berhala. Belum mati, lembu itu pun berdiri dan berjalan kembali hingga disembelih ulang, dikuliti dan dikeluarkan isi perutnya.
Abdul Muthallib lalu memeriksa tempat itu dan menemukan kawanan semut dengan gagak yang ada bulu putihnya sedang mematuk di atas kawanan tersebut. Dia pun tersadar bahwa itulah tempat seperti yang diilhamkan dalam mimpinya.
Putranya Harits diperintahkan untuk berjaga di sekitar sementara sang ayah Abdul Mutallib menggalinya. Dengan izin Allah, tidak lama kemudian menyemburlah keluar air bersih dan jernih dari bekas galiannya. Sontak saja kejadian itu membuat geger satu Kota Mekah.
Pimpinan suku-suku pun berkumpul meminta hak dari sumur yang baru saja digali oleh kakek Nabi Muhamma salallahu alaihiwassalam.
Meski sempat menimbulkan konflik yang berpotensi terjadinya peperangan antara suku di Mekah, hak sumur zam-zam akhirnya tetap dipegang Abdul Muthalib dan keluarganya. Atas dasar itu juga lelaki yang sempat mengasuh Baginda Rasulullah itu diangkat menjadi Raja Kota Mekah saat itu. (sr01)
#pojokramadan #sejarah #kisahislami #serangkai.co





